Memang mencintai dua orang yang berbeda bersamaan itu bukan hal yang mustahil. Tapi sepertinya kejujuran yang pahit masih terasa lebih manis bila harus dibandingkan dengan diam. Toh seluruh dunia juga sudah tau bagaimana saya menyikapi pasangan saya kalau dia memikirkan wanita lain ((atau lebih parahnya sudah jadi kekasihnya)).
Di awal hubungan, saya selalu bilang pada pasangan saya: “Saya tidak ada masalah kalau kamu punya kekasih lain. Tapi saya lebih menghormati kejujuran kamu untuk memberitahu saya, daripada kamu harus sembunyi-sembunyi. Toh ini juga untuk kebaikan kita berdua.”
Entahlah.. Saya pribadi menganggap itu baik. Sejauh ini, alasan yang bisa saya ungkapkan:
1. Kalau suatu saat pasangan saya sedang jalan dengan wanita lain selain saya, berdua saja, dan kebetulan ketahuan kenalan saya, lalu kenalan saya mengadu pada saya, saya sudah punya jawaban: “Oh, iya. Memang pasangan saya sedang jalan sama orang yang kebetulan tadi kamu lihat. Dia sudah pamit kok, jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan saya.”
2. Kalau suatu saat pasangan saya sedang keluar dengan pasangannya, dan kemudian saya telpon, tidak menutup kemungkinan pasangan dari pasangan saya akan marah ((karena pasangan saya menerima telpon dari saya yang kalau dilihat dari perspektif pasangan dari pasangan saya, saya adalah selingkuhan pasangannya)). Coba kalau pasangan saya sebelumnya memberitahu saya, hal seperti ini nggak mungkin terjadi kan?
3. Saya menyilakan pasangan saya untuk memiliki pasangan lagi, bukan berarti saya tidak mencintainya, dan bukan berarti saya tidak sakit hati. Dan bukan juga berarti dia tidak mencintai saya. Saya hanyalah tipe orang yang menjunjung tinggi kejujuran dalam berhubungan. Ya, sesederhana itu.
Saya mengomel panjang lebar ngalor ngidul begitu bukan tanpa sebab. Baru aja sebelum menulis posting ini, saya membaca sebuah puisi ((yang sepertinya baru saja dibuat, karena saya tidak pernah membaca puisi ini sebelumnya)). Setelah membacanya saya baru menyadari, kalau selama ini pasangan saya ((meskipun HTS, dia tetap pasangan saya, kan?)) masih mencintai mantan kekasihnya.
Saya tidak akan memaksanya memberitahu saya langsung tatap muka, karena memang saya tahu pasangan saya orangnya introvert banget ((bahkan ke saya sekali pun)). Saya hanya menyesal kenapa dia tidak memberitahu saya sebelumnya? Diam pun nggak akan membuat keadaan lebih baik kan? Daripada saya harus mengetahui belakangan, ketika saya yakin saat ini dia hanya mencintai saya. Walaupun mantan pasangan saya ini sudah tunangan dan hampir menikah, pasangan saya sepertinya sudah terlanjur mencintainya terlalu dalam ((sampai-sampai saya pun nggak mampu membuatnya sedikit demi sedikit merelakan mantan kekasihnya)). Whew..
Tapi harapan saya untuk pasangan saya, semoga saja dia bisa menemukan cinta lain, yang bisa mengubah dia menjadi seorang yang ekstrovert ((minimal sama pasangannya)), yang bisa membuat dia bisa merelakan mantan kekasihnya dan saya. Hahaha…