alternate text

Baru-baru ini gw berpikir, lama-lama kok gw cape yah klo pergi kemana-mana mesti enang-eneng hape yang begitu banyaknya. Gw mulai berpikir untuk buangin 3 dari 4 nomor yang gw pakai sekarang. Yang jadi masalah, kalian tau kan guys, kalau nomor hape yang gw pilih itu dibuang sayang semua.

Pertimbangan untuk masing-masing nomor:
1. Matrix – nomornya oke banget, ngapalinnya gampang, 6 digit terakhirnya 888 088
2. IM3 – sebenernya nomornya ngga oke-oke banget, tapi ini untuk mencegah bengkaknya tagihan, 6 digit terakhirnya 110 660
3. StarOne Pascabayar – ini juga nomornya ngga begitu oke ((tapi dari pilihan lain waktu gw apply, ini satu-satunya nomor yang paling gampang diinget)), ini media gw buat berhubungan dengan dunia maya setiap hari, 6 digit terakhirnya 110 830
4. StarOne Prabayar – ini nomor paling oke dari semua nomor hape yang gw punya, ngga pernah ganti nomor dari pertama beli, jumlah angkanya klo ditambahin semua 9, 6 digit terakhirnya 240 240

Jadi friends, kasih gw saran dunk, sbaenya gw pake nomor yang mana? Saran sahabat gw, paling ngga nomor gsm satu, cdma satu. Jadi pilihannya: Matrix atau IM3? Sama StarOne Pasca atau Pra?

alternate text

Suatu saat ketika gw lagi nganggur, gw iseng sms sahabat gw, yang ternyata juga lagi bengong. Kita smsan masalah-masalah yang ngga penting. Sampai saking isengnya sahabat gw nanya:

Hobi kamu apa aja sih, sebenernya? Klo aku sih biasanya jalan-jalan ke toko buku, bisa berjam-jam disana, atau keluyuranan cari tempat makan baru yang bisa dijadiin referensi.
Aku juga suka jalan-jalan. Ke toko buku, travelling, blogwalking, surfing the internet.. Haha.. Itu juga termasuk jalan-jalan kan?
Haha iya.. Klo yang itu aku juga suka

Acara smsan masih terus berlanjut, sampai gantian saya yang iseng nanya:

Trus klo yang namanya jalan bareng di cyber itu yang kya gimana yah?
Apa satu komputer berdua? Atau masing-masing satu komputer, tapi komputernya sebelahan? Atau janjian ketemu di cyber, trus chatting dilanjut surfing hal yang sama?

Wah klo aku sih lebih milih ketemu. Klo jalan bareng online ya sama aja boong :)

Iseng itu ngga ada batesnya, dan iseng milik semua orang. Mungkin smsan begitu berpotensi ngabisin pulsa, tapi klo itu bisa menghibur kita yang lagi bete, gw pikir ngga ada salahnya mulai menghibur diri supaya bisa refresh. Iya, kan?

alternate text

Melalui posting ini, saya mohon maaf sedalam-dalamnya ke pasangan saya. Tautan ke puisi yang udah dibuat pasangan saya, juga udah saya remove hyperlinknya.

Buat pasangan saya,
Aku minta maaf bener-bener. Maafin aku ya?

alternate text

Memang mencintai dua orang yang berbeda bersamaan itu bukan hal yang mustahil. Tapi sepertinya kejujuran yang pahit masih terasa lebih manis bila harus dibandingkan dengan diam. Toh seluruh dunia juga sudah tau bagaimana saya menyikapi pasangan saya kalau dia memikirkan wanita lain ((atau lebih parahnya sudah jadi kekasihnya)).

Di awal hubungan, saya selalu bilang pada pasangan saya: “Saya tidak ada masalah kalau kamu punya kekasih lain. Tapi saya lebih menghormati kejujuran kamu untuk memberitahu saya, daripada kamu harus sembunyi-sembunyi. Toh ini juga untuk kebaikan kita berdua.”

Entahlah.. Saya pribadi menganggap itu baik. Sejauh ini, alasan yang bisa saya ungkapkan:

1. Kalau suatu saat pasangan saya sedang jalan dengan wanita lain selain saya, berdua saja, dan kebetulan ketahuan kenalan saya, lalu kenalan saya mengadu pada saya, saya sudah punya jawaban: “Oh, iya. Memang pasangan saya sedang jalan sama orang yang kebetulan tadi kamu lihat. Dia sudah pamit kok, jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan saya.”

2. Kalau suatu saat pasangan saya sedang keluar dengan pasangannya, dan kemudian saya telpon, tidak menutup kemungkinan pasangan dari pasangan saya akan marah ((karena pasangan saya menerima telpon dari saya yang kalau dilihat dari perspektif pasangan dari pasangan saya, saya adalah selingkuhan pasangannya)). Coba kalau pasangan saya sebelumnya memberitahu saya, hal seperti ini nggak mungkin terjadi kan?

3. Saya menyilakan pasangan saya untuk memiliki pasangan lagi, bukan berarti saya tidak mencintainya, dan bukan berarti saya tidak sakit hati. Dan bukan juga berarti dia tidak mencintai saya. Saya hanyalah tipe orang yang menjunjung tinggi kejujuran dalam berhubungan. Ya, sesederhana itu.

Saya mengomel panjang lebar ngalor ngidul begitu bukan tanpa sebab. Baru aja sebelum menulis posting ini, saya membaca sebuah puisi ((yang sepertinya baru saja dibuat, karena saya tidak pernah membaca puisi ini sebelumnya)). Setelah membacanya saya baru menyadari, kalau selama ini pasangan saya ((meskipun HTS, dia tetap pasangan saya, kan?)) masih mencintai mantan kekasihnya.

Saya tidak akan memaksanya memberitahu saya langsung tatap muka, karena memang saya tahu pasangan saya orangnya introvert banget ((bahkan ke saya sekali pun)). Saya hanya menyesal kenapa dia tidak memberitahu saya sebelumnya? Diam pun nggak akan membuat keadaan lebih baik kan? Daripada saya harus mengetahui belakangan, ketika saya yakin saat ini dia hanya mencintai saya. Walaupun mantan pasangan saya ini sudah tunangan dan hampir menikah, pasangan saya sepertinya sudah terlanjur mencintainya terlalu dalam ((sampai-sampai saya pun nggak mampu membuatnya sedikit demi sedikit merelakan mantan kekasihnya)). Whew..

Tapi harapan saya untuk pasangan saya, semoga saja dia bisa menemukan cinta lain, yang bisa mengubah dia menjadi seorang yang ekstrovert ((minimal sama pasangannya)), yang bisa membuat dia bisa merelakan mantan kekasihnya dan saya. Hahaha…