Nggak banyak orang-orang di dunia ini yang bisa mengajarkan nilai-nilai pada orang lain, apalagi nilai-nilai yang baik dan positif. Gw beruntung, gw bisa kenal 2 orang diantara yang sedikit itu. Mereka adalah bapak gw dan pasangan gw, 2 orang yang nggak jauh berbeda. Mereka sama-sama gila kerja, berpikir dari banyak sudut pandang, logis, suka membantu orang lain (dengan cara mereka sendiri), dan mengajarkan pada orang lain nilai-nilai yang mereka anggap baik.
Gw lupa apakah Bapak pernah mengajarkan ke gw secara lisan (bukan hanya menunjukkan perbuatannya) bahwa untuk memulai segala sesuatunya, niatkan untuk hal yang baik dan positif, bukan karena takut atau terpaksa, bukan karena dendam, dan bukan karena mementingkan diri sendiri. Tapi pasangan gw pernah.
Pada saat pasangan gw mengucapkan itu ke gw, gw ngotot dalam hati, gw udah melakukan itu kok! Kamu aja yang nggak tau. Tapi pernah, suatu saat, dia menanyai gw, apa niatan gw ketika gw memutuskan untuk melakukan suatu hal. Setelah gw jawab, dia hanya berkomentar, tuh kan? Aku kan udah pernah bilang, kalo mau ngapa-ngapain, niatnya yang baik, biar hasilnya juga baik. Gw hanya manggut-manggut. Iya juga ya? Dalam keadaan terpaksa, meniatkan segalanya dalam kategori baik itu sulit banget.
Dulu, untuk mengajarkan nilai-nilai yang dianggap baik oleh pasangan gw, ketika gw melakukan kesalahan, dia menegur gw langsung dengan keras. Saat itu yang ada di otak gw, kok marah melulu sih. Apa nggak ada cara yang lebih baik dari itu? Tapi sejak bulan Juli kemarin, pasangan gw berubah total. Kalau gw ada nggak benernya di depan dia, dia ngasih taunya pelan-pelan. Dan kalo dia sudah mulai begitu, gw mulai introspeksi dari awal kasus yang membuat dia berkomentar begitu ke gw.
Uhmm… Mungkin 2 hal ini yang bikin gw nggak bisa seluruhnya kehilangan pasangan gw dalam hidup gw. Dia terlalu mirip bapak gw, dan dia terlalu banyak ngajarin gw hal-hal baik, dan mungkin dia nggak akan pernah berhenti ngajarin gw, Insya Allah…






