alternate text

Nulis

February 24th, 2009 No Comments »

Menulis, menulis, menulis. Tiga hal yang gw nggak habis mengerti. Kenapa bisa susah ya? Gw kepingin bisa menulis yang lebih baik lagi daripada yang sekarang. Tapi kenapa gw merasa susah sekali ya?

Sepertinya memang gw harus belajar menulis lebih banyak lagi. Learning by doing memang sepertinya cara yang bener-bener efektif untuk masalah gw yang satu ini. Cara lain, baca buku milik pasangan saya, karangan Atmazaki.

alternate text

Gw dikasih tau pasangan blog hosting gratisan baru nih.. Gw udah coba. Liat deh punya gw.. Ini punya pasangan gw..

Lumayan enak diliat, gampang dipakenya.. Sayangnya, karena ini easy blogging, ya emang cuma dipake ngeblog tanpa bisa dikomentarin. Jadi cuman bener-bener kasih info ke orang yang buka profile page kamu, apa yang lagi kamu lakuin. Semacem twitter ato plurk getu deh.. Enaknya lagi, kamu bisa bikin lebih dari satu alamat di satu username yang sama. Definitely fun!

alternate text

Sesakit Apapun Itu

February 13th, 2009 7 Comments »

To : Didiy <orangganteng@blahblahblah.com>

Subject : apapun yang bakal terjadi, aku tetep cinta kamu…

Attachment : MyItinerary.jpg


Pagi, Diy.

Jujur, aku sendiri nggak ngerti kenapa aku ambil keputusan ini. Aku tahu ini keputusan bodoh dan nggak bertanggung jawab. Aku juga sadar akibat yang nantinya pengaruh ke hidupku dan orang-orang di sekitarku, tapi aku juga ingin tahu, dengan aku pergi ini, apa pengaruh, komentar dan tindakan orang di sekitarku. Aku berusaha untuk lari dari semua, Diy. Aku nggak kuat. Jadi, aku putuskan untuk pergi ke luar kota aja.

Aku yakin kamu ngerti apa masalahku diluar hubungan kita. Tapi, in case kamu nggak sadar atau lupa apa aja yang pernah kamu katakan dan lakukan yang membuatku sakit, jangan berhenti baca sampai disini.

Setelah ‘kejadian itu’, kamu nggak pernah lagi hubungi aku. Yah, pernah sih. Tapi jarang banget. Aku masih inget, tahun itu, kamu ucapin ulang tahun aku lewat sms. Itu pun cuma “Met ultah…”. Aku berusaha mengerti, kamu mungkin masih sakit dengan ‘kejadian itu’. Apa sih yang ada di pikiran kamu? Kamu pikir aku nggak sakit? Tapi aku masih tetep punya hubungan yang nggak berubah sama kamu, Diy.

Setelah sekitar setengah tahun nggak ketemu, tiba-tiba aja kamu telfon aku. Aku udah seneng, aku udah mikir, mungkin ini bisa jadi jalanku untuk bisa deket lagi sama kamu. Tapi ternyata yang ada, sampai beberapa bulan ke depannya, kita ketemu cuma sebulan sekali dan kamu cuma nelfon aku sebulan dua kali. Itu pun satu diantaranya sebentar aja, konfirmasi bisa ketemu besoknya ato nggak. Ujung-ujungnya aku nggak kuat, sampai aku mohon-mohon supaya kamu nikahi aku secepatnya. Aku nggak pernah tahu apa yang kamu lakukan sampai saat itu, karena kamu emang nggak pernah cerita. Yang aku ingat jelas, kamu jawab permohonan aku dengan keras, sampai aku berpikir bahwa kamu emang nggak mau nikahi aku.

Sejak hari itu, aku belajar untuk lupain semua kenangan tentang kita. Berusaha pelan-pelan lepasin pengaruh kuat kamu ke aku. Aku nggak tau, kamu tau atau nggak bahwa 3 bulan setelah penolakan kamu adalah cobaan paling berat buat aku. Aku lagi ada masalah di keluarga, sementara bulan-bulan itu adalah deadline skripsi aku. Aku butuh sandaran. Saat itu aku percaya, cuma kamu yang bisa jadi sandaran aku. Tapi setiap kali aku denger suara kamu, saat itu juga aku takut untuk cerita keadaan aku. Yang ada jadinya aku malah krisis pede habis-habisan. Aku merasa nggak ada gunanya aku hidup. Nggak ada yang peduli sama aku, dan mungkin juga nggak ada yang perhatian bahwa aku ini eksis di bumi ini.

Aku nggak tau harus aku apain krisisku itu. Akhirnya aku coba sosialisasi lagi. Aku coba untuk buka hati aku untuk terima orang lain. Seandainya aja kamu tau rasanya, Diy. Sakit banget ketika aku sadar bahwa yang ngajakin aku keluar hampir tiap malem bukan kamu. Yang dateng ke rumah aku tiap malem bukan kamu. Bahkan yang nemenin aku ngurusin wisuda sampai gladi bersih wisuda juga bukan kamu. Aku pinginnya yang ada disitu KAMU, Diy. Kamu ngerti nggak sih?

Hahaha… Tau nggak? Waktu itu, lagu yang aku dengerin cuma lagu Sadis-nya Afgan. Berharap kamu sadar. Aku bersyukur, Diy, akhirnya kamu sadar beberapa hal. Bahwa walaupun aku jalan sama orang lain, hati dan waktu aku tetep ada buat kamu. Bahwa aku yang tetep ada di deket kamu walaupun kamu sibuk mengingat masa lalu.

Tapi semua udah terlambat, Diy. Aku lagi belajar keras untuk mencintai orang lain selain kamu dan aku nggak ingin sakiti dia. Aku udah janji ke diri aku sendiri untuk nikah dengan dia, Diy. Sampai kamu mohon-mohon supaya aku mau kembali jadi pasangan kamu. Kamu ajak aku keluar setiap hari. Kamu nelfon aku tiap malem (padahal kamu tahu hape CDMA aku baru aja ilang, dan kamu tetep rela menghabiskan pulsamu untuk nelfon nomor GSMku). Kamu berusaha nyenengin aku. Kamu janji untuk nggak bersikap seperti yang dulu lagi. Tapi aku tetep nggak bisa, Diy. Benteng pertahanan aku lemah, apalagi kalo kamu yang nyerang.

Aku mulai berusaha bisa terima kamu lagi, walaupun sejujurnya aku masih takut kamu akan kembali seperti yang dulu lagi. Beberapa bulan setelahnya pun, aku masih bertanya-tanya, sampai kapan kamu kuat bertahan menjadi orang yang aku tahu bukan kamu banget.

Baru setengah tahun setelahnya dan kamu nggak kembali seperti dulu, aku percaya kamu lagi. Aku percaya kamu nggak akan sakiti aku lagi. Tapi nggak selang lama setelah kepercayaan aku pulih, kamu mulai sakiti aku lagi, Diy. Memang kamu nggak bilang apa-apa, tapi sikap kamu ke aku bikin aku merasa nggak ada gunanya di mata kamu, Diy. Aku sempat mulai krisis pede lagi. Tapi aku berusaha terima semuanya.

Inget, Diy. Sesakit apapun itu, asalkan kamu masih ingin aku di sisimu, akan aku telan semua, tanpa kompromi.

Terserah kamu, Diy. Kamu mau ngatain aku apaaa aja, aku terima, Diy. Aku nggak bisa bantah kamu. Aku nggak bisa tolak semua yang kamu tujukan ke aku. Aku cuma… nggak bisa. Semua yang kamu katakan tentang aku, emang benar adanya. Itu juga yang bikin aku heran. Kalo kamu emang udah kenal aku begitu dalam, kenapa kamu masih aja tanya lagi ke aku. Aku cuma manusia biasa, Diy, banyak kelemahan dan kekurangan. Ada saat-saat dimana aku nggak bisa nahan emosi aku. Aku nggak ingin jadi pemarah, Diy. Aku nggak ingin nyimpen bom waktu. Aku cuma ingin nyimpen semuanya sendiri. Tapi tolong, jangan paksa aku untuk muntahin semua.

Yang perlu kamu tahu, Diy: dalam hidupku ini, belum pernah aku bisa mencintai orang lain sedalam aku cinta kamu. Bahkan setelah kita sempat nggak berhubungan dan aku mencoba hubungan dengan orang lain, aku tetap nggak bisa mencintai dia sedalam aku cinta kamu. Aku nggak bisa lupain kamu, Diy. Aku nggak pernah bisa nemuin orang lain sebaik kamu, secerdas kamu, se-humble kamu, sekeras kamu. Aku nggak bisa menemukan orang yang begitu mengenal aku, mengerem semua tindakan konyolku, menyayangi aku apa adanya, menerima segala kekuranganku, sebaik kamu melakukannya. *cinta mati nih, ceritanya. Well, intinya, aku cuma cinta kamu, Diy. Aku ulang lagi ya? Seberapa pun menyakitkannya, asalkan aku masih tetap bisa miliki kamu, asalkan kamu masih sayang aku, aku terima semuanya, Diy. SEMUANYA!

Jadi aku putuskan begini aja: aku akan pergi ke luar kota sebentar, sampai batas waktu yang nggak ditentukan; dan kamu tetap ada di hati aku. Aku cuma pergi sementara waktu, sampai kamu selesai mempersiapkan semua yang menjadi impian kamu. Kalau kamu sudah siap untuk menjadikan aku pasanganmu, di setiap kejadian dalam hidupmu, di sisa umur kita, kamu tahu kemana harus menghubungi aku. (FYI, aku juga attach hasil scan tiket pesawat aku. In case kamu menyesal udah kehilangan aku, hahaha…)

*

Bandara, 10.50

Gue nggak tahu gimana lusuh dan kucelnya wajah gue sekarang ini. Yang gue tahu, kepala gue sakit banget, jantung gue nggak pernah berdetak teratur 2 hari belakangan, mata bengkak (sumpah, gue capek nangis), dan ingus nggak berhenti mengalir di lubang hidung.

Meski begitu, ada rasa lega dalam benak dan kalbu gue. Gue udah kirimin email tentang perasaan gue sebenarnya ke Didiy. Yah, walaupun kirimnya sebelum gue berangkat ke bandara, tapi gue yakin, Didiy nggak mungkin baca jam segini. Ini kan jam tidurnya dia. In case dia nggak ngecek email, gue juga udah kirimi dia sms notifikasi.

Nah, masalahnya, gue berangkat ke bandaranya kepagian. Pesawat gue baru take off jam 12.10, yang artinya boarding sekitar jam 11.40. Pulsa gue habis, dan gue masih males beli. Pinginnya sih ntar aja kalo gue udah nemu tempat buat kos, baru deh gue beli. Hahaha… Jadi gue nggak bisa sms, chatting, ato browsing.

Gue duduk bengong nggak tahu apa yang harus gue lakukan selama beberapa lama, sampai akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar ruang tunggu boarding. Udah beberapa kios gue masukin, tapi nggak ada yang menarik. Untung aja udah ada panggilan boarding. Gue segera masuk dan langsung ikut berdiri di barisan antrian boarding.

Tiba-tiba aja ada yang menarik tangan gue sampai gue keluar barisan antrian.

Didiy!

Ngapain coba dia disini? Bukannya ini waktunya dia tidur?

“Tolong Ta, jangan pergi. Saya nggak bisa bayangkan hidup saya tanpa kamu di sisi saya. Saya nggak bisa kehilangan kamu, lagi,” dia masih aja sibuk mengatur nafasnya, sementara tangannya masih menggenggam tangan gue. Kenceng banget. Sakit. Gue nggak tahu bahwa ternyata mencintai seorang Didiy memang harus sesakit ini.

“Saya tahu kamu sudah terlalu banyak saya sakiti, dan kamu masih aja sabar menghadapi saya yang keras ini. Saya nggak sanggup kalau saya harus merasakan sakitnya kehilangan kamu,” dia merogoh saku jaketnya.

Dia berlutut! Oh, my… Apa sih yang akan dia lakukan setelah ini? Gue rasa dia udah mulai gila. “Saya ingin menjadikan kamu teman hidup saya, ibu dari anak-anak saya. Tolong, jangan pergi. Menikahlah dengan saya,” dia membuka sebuah kotak dan memasangkan cincin di jari manis gue.

Ini kelas bukan Didiy yang gue kenal. Tapi dia sampe rela menjadi orang lain demi menghalangi kepergian gue. I am so touched. Lagian, kapan dia beli cincinnya yah? Kok gue nggak tahu?

Didiy menatap mata gue dalam-dalam. Gue minta Didiy untuk berdiri dan memeluk dia kenceng-kenceng. “Aku mau,” bisik gue lirih di telinganya.
Dari mata gue yang udah bengkak sampe nggak berbentuk lagi ini, gue harus menangis lagi. Tapi gue yakin, kali ini bukan air mata yang menyakitkan untuk gue.

alternate text

Black Box

February 8th, 2009 No Comments »

Lama nggak ngenet buat ngeblog, hari Jumat maren gw diajak pasangan buat ikut Djarum Black Blog Competition. Gw nggak ada target buat menang. Cuma ikut-ikutan aja. Biarin deh yang menang pasangan gw aja (tetep optimis), toh hasilnya juga ntar nyiprat ke gw ini. Hahaha…
Syaratnya gampang banget. Yang penting itu blog punya minimal 20 posting yang ada kata kuncinya. Hadiahnya lumayannnn… Acer Aspire One A150, BlackBerry Curve 8310, dan voucher merchandise.
Ini nih BlackBox gw.