alternate text

Meskipun baru kenal, gw dan temen-temen seproduksi udah ngerasa deket banget. Gimana enggak? Sejak pra produksi sebulan yang lalu, kami hampir tiap hari ketemu. Kami bahkan udah berkomitmen untuk tetep aktif bikin project indie. Untuk project kemarin, susunan tim produksinya begini:

Director : Iyan Wijaya
Assisstant Director : Tosan P.
Screenplay : Syahwinda
Director of Pfotography : Syahrir Igo
Editor : Wiryadi “Waw” Dharmawan
Unit Production Manager : Annisa Pratiwi
Art Director : Andra
Assistant Art Director I : Mandra
Assistant Art Director II : Safiq “Jacko”
Cameraman : Timbul
Lighting : Septa
Soundman : Yudha
Runner : Arif Oini
Wardrobe and Make-up Artist: Ofal
Property Manager : Sinarwan
Clipper : Fathan
Soundtrack team : Sinarwan, Ulee, Yudha, Syahwinda, Andra, Vembriona

Tapi entah yaa.. Untuk project berikutnya susunannya masih sama atau nggak.. Yang jelas, kerja bareng mereka ini menyenangkan banget!

alternate text

Mendadak Artis

August 31st, 2007 4 Comments »

Talent yang tim gw butuhkan buat film kita masih kurang satu. Perannya jadi ibunya pemeran utama. Menurut supervisor dari Jakarta, Bang Omar Dozy, lebih baik pemerannya yang emang beneran ibu-ibu, biar make sense. Tim gw udah berusaha selama beberapa hari ini tapi masih juga belum nemu. Sampai saking putus asanya, kita bahkan berencana pakai ibu kandung pemeran utamanya.

Tapi lalu gw inget gw punya beberapa temen yang udah jadi ibu-ibu. Gw mulai scanning siapa aja yang cocok jadi pemeran si ibu ini. Alternatif pertama, sebenernya cocok, tapi karena dia lagi hamil tua, banned. Alternatif kedua, sebenernya cocok juga, tapi karena domisili di Denpasar, good bye. Alternatif ketiga, nah ini kayanya sip. Kemarin pas semua kru lagi kumpul di rumah gw, gw minta temen gw ini casting di rumah.

Awalnya sih dia merasa nggak cocok sama peran ini. Ngeliat gimana cablaknya dia di real life, tiba-tiba dia musti berperan jadi ibu yang mellow dan super kalem. Tapi toh akhirnya emeng temen gw ini yang dipilih jadi pemeran si ibu. Humm.. mendadak artis dia.. Selamat ya, mbakkkkkkk…

Karena aktivitas padat dalam produksi film ini, waktu istirahat gw jadi berkurang. Setelah dua malam sebelumnya gw tidur dengan durasi maksimal 3 jam, akhirnya tadi malem gw dengan sukses tepar mulai jam 9 malem dan baru bangun jam 5, tanpa pake kebangun di tengah malem. Pokoknya di sela jadwal yang sibuk ini, tidur tadi melem berasa istimewa banget.

Walhasil, aktivitas gw smsan sama beberapa orang langsung gw cut. Gw pamit mw tidur lebih awal. Uhm.. What a wonderful night..

alternate text

Shura

August 29th, 2007 5 Comments »

Sejak film yang akan gw produksi pemeran utamanya adalah burung kertas, kerjaan gw nambah satu lagi. Melipat kertas-kertas origami tadi menjadi burung kertas. Mungkin burung kertas yang gw bikin berasa gimana gitu kali yah terhadap orang yang lihat hasil akhirnya. Walhasil, orang-orang terdekat gw ketularan pengen ikut bikin. Mereka minta ajarin gw gimana cara bikinnya.

Cepet banget mereka belajarnya. Biasa lah manusia, kalo nemu mainan baru, pasti masih giat-giatnya mainan. Nah itu yang terjadi terhadap orang-orang yang udah gw ajarin.

Hasilnya? Lumayan. Pekerjaan gw bikin burung berkurang banyak dengan bantuan mereka. Mumpung lagi giat-giatnya..

alternate text

Beberapa hari yang lalu gw ikut workshop dan meet the producers LA Indie Movie. Gw dapet informasi ini dari teman gw di Jakarta, Mas Parto, dan dia mendorong gw untuk coba-coba ikut workshopnya. Dia memberi gw nomor kontak untuk yang di Surabaya, dan kasih gw bocoran-bocoran yang lumayan membantu gw. Seperti, gw sudah tau kalau nantinya ada kompetisi yang memperebutkan hadiah yang kalau dipakai untuk produksi sebuah film indie, jumlahnya termasuk “wow!”. Gw nggak tau berapa jumlah total pendaftar di workshop ini. Yang jelas, semua formulir pendaftaran yang diterima, diseleksi lagi menjadi 100 orang. Yang membuat gw kaget, ternyata untuk yang di Surabaya ini, pesertanya ditambah jadi 120 orang. Dari 120 orang, diminta untuk menuliskan ide cerita yang ingin difilmkan, dan diseleksi lagi menjadi 50 ide cerita yang akan dipresentasikan di depan para produser ((a.k.a juri)). Gw coba beraniin diri untuk mengambil salah satu cerita pendek yang pernah gw buat beberapa tahun lalu.

Menurut bocoran Mas Parto yang sudah pernah presentasi di depan juri, sesi ini adalah sesi tersulit dari semua sesi yang ada. Karena di sesi itu adalah kesempatan kita untuk bener-bener impress para juri untuk bisa mengerti dan mempunyai gambaran kenapa ide cerita yang dipresentasiin ini produksinya layak dibiayai pihak LA.

Dan ternyata memang. Kebetulan gw ini masuk 50 besar, dan dapat giliran kedua, dari 50 peserta tadi. Gw grogi dan stres nggak karuan. Gimana enggak? Jurinya adalah para produser film terkenal yang film-filmnya diputer di bioskop dan masuk nominasi Piala Citra, plus Wulan Guritno. Jantung gw berdetak makin kencang waktu para juri turun dari lift, melewati kami-kami para peserta yang grogi setengah mati untuk mempertahankan idealisme ide cerita di depan mereka nantinya.

Gw merasa makin stres ketika peserta pertama, sebelum gw, stres banget ketika keluar ruangan eksekusi. Semakin manambah keyakinan gw bahwa Mas Parto bener, presentasi adalah sesi tersulit. Masuk ruangan eksekusi, grogi gw langsung hilang. Yang ada malah pede. gw diberi waktu beberapa menit untuk menjelaskan sedetil-detilnya ide cerita gw, tanpa berhenti, dan jangan buang waktu. Jadi gw ngoceh tentang cerita gw itu. Yang bikin gw excited sama diri gw sendiri, gw bisa jawab hampir semua pertanyaan para juri tadi langsung setelah mereka tutup mulut dan gw merasa yakin aja. Iya, hampir semua. Karena gw nggak bisa jawab ketika:

John De Rantau : Trus, siapa aktor yang akan kamu pilih buat film kamu nantinya?
Gw : Saya belum ada gambaran mengenai itu, mas.
John De Rantau : Loh? Trus gimana kita bisa produksi film kamu kalo gak ada aktornya?
Gw : Saya sih pinginnya cowok yang keturunan Cina-Arab gitu. Kan cakep..
Wulan Guritno : Nggak semua cowok keturunan Cina-Arab itu cakep loh. Ada juga yang jelek.
John De Rantau : Ayolah, pilih satu nama aktor yang menurut kamu cocok buat main di film kamu. Siapa? Nicolas Saputra?

Gw : Uhmm.. Kayaknya Nico nggak cocok deh, mas.. Siapa yaaa? *mikir sekitar 30 detikan*
Wulan Guritno : Fachri Albar?
Gw : Mungkin.. Uhmm.. *mikir lagi 15 detik* Sultan Djorghi boleh deh.
John De Rantau : Oke, makasih. Kamu boleh keluar.

Legaaaaaaaaaa…

Gw nggak tau, dari presentasi gw tadi bisa nganter gw ke 10 besar atau nggak. Habis, saingan-saingan gw minimal udah pernah bikin paling nggak 1 film. Nah gw? Lagian, siapa sih yang nggak pingin, kalo film yang bakal diproduksi dibiayai dengan jumlah yang lumayan gede, dibimbing sutradara dan produser ternama pula?

Harapan emang milik semua orang. Uang segitu besar untuk memproduksi sebuah film yang durasinya bahkan nggak lebih dari 30 menit, siapa yang nggak mau?

Setelah presentasi itu, entah kenapa gw jadi merasa minder. Gw adalah orang yang sama sekali baru dalam dunia film indie. Gw hopeless bisa masuk 10 besar. Dan meskipun nantinya gw nggak masuk 10 besar, gw masih punya yang lain. Gw masih punya orang-orang terdekat yang selalu dukung gw. I think it’s more than enough, kan?

Yang gw salut, Mas Parto, Fahmi, dan Vina adalah tiga orang yang nggak berhenti percaya kalo cerita gw bakal masuk 10 besar. Thnx yah, friends..