alternate text

Sepuluh

March 10th, 2009 2 Comments »

Taura, 10.10

Aku masih belum juga bisa memejamkan mataku. Rasanya nggak percaya aja kalo sekarang aku udah resmi jadi pacar Miko. Mungkin bagi kamu biasa aja, tapi bagi aku, ini sangat luar biasa. Bayangin aja, kalau diitung-itung, aku suka Miko udah sejak 3 tahun yang lalu. Tapi waktu itu dia udah punya cewek. Ya udahlah, aku diem. Eh ternyata, yang deketin aku malah sahabatnya. Waktu sahabatnya minta aku jadi pacarnya, aku iyain aja. Gimana lagi? That’s the only way I can be around Miko. Bener aja, hampir tiap hari aku ketemu Miko.

Aku sabar-sabarin aja jadi cewek sahabat Miko. Selama 3 tahun aku jadi cewek sahabatnya, padahal aku udah nggak tahan dan pengen putus sejak lewat tahun pertama aku jadian sama sahabatnya.

Dan sebenernya, aku udah agak-agak dongkol dan hopeless. Udah berkali-kali aku kasih sinyal kalo yang aku suka tuh Miko, tapi dia masih aja nggak ngeh. Tapi entah kenapa, tadi siang waktu aku minta dia menemaniku beli laptop, jalan di sebelahnya aja jantungku udah detak cepet banget dan nggak teratur.

Begitu sampe rumah, kutimbang-timbang lagi dan berusaha mengingat apa yang sudah dia lakukan untukku. Maksudku, aku nggak berniat untuk jadi matre. Aku hanya ingin memastikan, kalo aku yang duluan minta dia jadi cowok aku, dia mau ato nolak.

Akhirnya tadi sore, aku bulatkan tekad untuk bilang ke Miko secepatnya. Nggak disangka, dia langsung oke aja. Aku bahagia banget! Inget ya? Sekarang tanggal 10 Oktober!

Miko, 10/10

Saya bukannya sombong. Saya juga nggak mau sok laku. Saya juga bukannya belum mau menikah. Siapa orangya sih, di umur yang sudah cukup ini menikah dengan orang yang dicintai. Sungguh, saya mencintai Taura segenap hati saya. Hanya saja yang membuat saya nggak tahan dengannya, kenapa dia nggak juga mengerti bahwa menikah itu nggak segampang itu. Saking kesalnya, waktu itu saya bentak saja dia dan mengatakan bahwa saya masih belum mau menikah.

Nggak saya sangka, bentakan saya malah membuatnya mundur teratur. Perlahan dan luput dari pandangan saya. Saya baru menyadari ketika saya baca blog pribadinya yang mengatakan bahwa dia sudah punya orang lain. Bahkan orang itu sudah menyatakan ingin menikahi Taura. Dia sudah mengenalkan Taura pada orang tuanya. Dia bahkan sudah menanyakan pada Taura model cincin seperti apa yang Taura suka!

Kalau saja waktu itu saya nggak gencar mengejar Taura kembali agar saya bisa bersamanya lagi, mungkin saya tidak akan mencari orang lain lagi. Biarkan saja saya sendiri sepanjang sisa umur saya. Ya, kalau dulu saya hanya menelpon Taura dua minggu sekali, waktu itu saya menelponnya di setiap waktu bangun saya. Saya nggak mampu kerja! Yang ada di otak saya hanya bayangan akan jadi apa hidup saya tanpa Taura. Bagaimana jika Taura nggak bisa saya raih kembali. Kalau dulu saya hanya mau menemui Taura sebulan sekali (padahal saya dan Taura berada di satu kota), waktu itu saya mengajaknya bertemu setiap hari.

Tuhan, saya seperti orang gila saja waktu itu. Bagaimana tidak? Hidup saya waktu itu hanya untuk Taura. Tidur, hanya Taura yang masuk di mimpi saya. Bangun tidur langsung menelpon Taura, sampai sekitar dua jam, hanya untuk merayunya supaya mau menemui saya hari itu. Begitu dia setuju, saya mandi dan menjemput Taura. Lagi-lagi, sepanjang bertemu Taura – yang ternyata cantik, baru saya sadari – yang saya bicarakan padanya hanyalah rayuan dan janji-janji saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama di hari depan. Kalau dulu saya membiarkan dia sendiri kemana pun dia pergi, waktu itu saya rela mengantarkannya kemana saja, asalkan saya bisa melihat wajahnya yang mengagumkan itu satu hari lagi.

Setelah sekitar satu minggu saya melakukan itu semua, akhirnya Taura luluh. Saya bisa merengkuhnya kembali ke pelukan saya. Ketika Taura tidak di samping saya, baru saya sadari bahwa ternyata Tauralah yang selalu ada untuk saya. Bahkan ketika saya masih tenggelam dalam masa lalu saya, dia ada untuk saya. Ketika saya menyakitinya, dia masih bertahan untuk saya. Dia menganggap saya segalanya, tapi saya malah mensia-siakan dan menyakitinya. Begitu bodohnya saya tidak pernah melihat itu sebelumnya.

Hmmhh.. Mengingat masa lalu memang melelahkan. Siapa yang peduli dengan masa lalu saya dan Taura yang buruk. Taura sudah di genggaman saya sekarang, dan tidak ada masalah sedikit pun kapan saya akan menikahinya. Bagi saya, Taura adalah segalanya. Taura adalah hidup saya. Saya dan Taura sudah bahagia sekarang.

Nilai Taura di mata saya: 10, dari rentang 1 sampai 10!

Aline, 10:10

Waktu dulu Taura belum jadian sama Miko, gue udah pernah bilang sama Taura, kalo dia pasti akan jadian sama Miko. Dia nggak percaya gue. Padahal, nggak sampe seminggu setelah gue bilang itu ke Taura mereka jadian.

Waktu Taura udah jadian sama Miko, gue juga udah pernah bilang, kalo Miko itu jodoh dia. Cepet atau lambat, percaya ato nggak, dia pasti akan menikah dengan Miko. Bisa ditebak lah, Taura juga nggak percaya dengan omongan gue.

Bukannya gue pengen ngungkit peranan gue dalam setiap keputusan Taura. Gue cuma gemes aja sama Taura. Hello? Gue sahabat dia dari esde gitu? Yang udah tau busuk-busuknya dia juga. Percaya gue sedikit apa salahnya sih?

Hhh… Tapi udahlah, yang penting sekarang gue bahagia banget. Taura, sahabat gue yang tukang ngeyel itu, jam 10 lewat 10 ini udah resmi jadi istri Miko.***

alternate text

Sesakit Apapun Itu

February 13th, 2009 7 Comments »

To : Didiy <orangganteng@blahblahblah.com>

Subject : apapun yang bakal terjadi, aku tetep cinta kamu…

Attachment : MyItinerary.jpg


Pagi, Diy.

Jujur, aku sendiri nggak ngerti kenapa aku ambil keputusan ini. Aku tahu ini keputusan bodoh dan nggak bertanggung jawab. Aku juga sadar akibat yang nantinya pengaruh ke hidupku dan orang-orang di sekitarku, tapi aku juga ingin tahu, dengan aku pergi ini, apa pengaruh, komentar dan tindakan orang di sekitarku. Aku berusaha untuk lari dari semua, Diy. Aku nggak kuat. Jadi, aku putuskan untuk pergi ke luar kota aja.

Aku yakin kamu ngerti apa masalahku diluar hubungan kita. Tapi, in case kamu nggak sadar atau lupa apa aja yang pernah kamu katakan dan lakukan yang membuatku sakit, jangan berhenti baca sampai disini.

Setelah ‘kejadian itu’, kamu nggak pernah lagi hubungi aku. Yah, pernah sih. Tapi jarang banget. Aku masih inget, tahun itu, kamu ucapin ulang tahun aku lewat sms. Itu pun cuma “Met ultah…”. Aku berusaha mengerti, kamu mungkin masih sakit dengan ‘kejadian itu’. Apa sih yang ada di pikiran kamu? Kamu pikir aku nggak sakit? Tapi aku masih tetep punya hubungan yang nggak berubah sama kamu, Diy.

Setelah sekitar setengah tahun nggak ketemu, tiba-tiba aja kamu telfon aku. Aku udah seneng, aku udah mikir, mungkin ini bisa jadi jalanku untuk bisa deket lagi sama kamu. Tapi ternyata yang ada, sampai beberapa bulan ke depannya, kita ketemu cuma sebulan sekali dan kamu cuma nelfon aku sebulan dua kali. Itu pun satu diantaranya sebentar aja, konfirmasi bisa ketemu besoknya ato nggak. Ujung-ujungnya aku nggak kuat, sampai aku mohon-mohon supaya kamu nikahi aku secepatnya. Aku nggak pernah tahu apa yang kamu lakukan sampai saat itu, karena kamu emang nggak pernah cerita. Yang aku ingat jelas, kamu jawab permohonan aku dengan keras, sampai aku berpikir bahwa kamu emang nggak mau nikahi aku.

Sejak hari itu, aku belajar untuk lupain semua kenangan tentang kita. Berusaha pelan-pelan lepasin pengaruh kuat kamu ke aku. Aku nggak tau, kamu tau atau nggak bahwa 3 bulan setelah penolakan kamu adalah cobaan paling berat buat aku. Aku lagi ada masalah di keluarga, sementara bulan-bulan itu adalah deadline skripsi aku. Aku butuh sandaran. Saat itu aku percaya, cuma kamu yang bisa jadi sandaran aku. Tapi setiap kali aku denger suara kamu, saat itu juga aku takut untuk cerita keadaan aku. Yang ada jadinya aku malah krisis pede habis-habisan. Aku merasa nggak ada gunanya aku hidup. Nggak ada yang peduli sama aku, dan mungkin juga nggak ada yang perhatian bahwa aku ini eksis di bumi ini.

Aku nggak tau harus aku apain krisisku itu. Akhirnya aku coba sosialisasi lagi. Aku coba untuk buka hati aku untuk terima orang lain. Seandainya aja kamu tau rasanya, Diy. Sakit banget ketika aku sadar bahwa yang ngajakin aku keluar hampir tiap malem bukan kamu. Yang dateng ke rumah aku tiap malem bukan kamu. Bahkan yang nemenin aku ngurusin wisuda sampai gladi bersih wisuda juga bukan kamu. Aku pinginnya yang ada disitu KAMU, Diy. Kamu ngerti nggak sih?

Hahaha… Tau nggak? Waktu itu, lagu yang aku dengerin cuma lagu Sadis-nya Afgan. Berharap kamu sadar. Aku bersyukur, Diy, akhirnya kamu sadar beberapa hal. Bahwa walaupun aku jalan sama orang lain, hati dan waktu aku tetep ada buat kamu. Bahwa aku yang tetep ada di deket kamu walaupun kamu sibuk mengingat masa lalu.

Tapi semua udah terlambat, Diy. Aku lagi belajar keras untuk mencintai orang lain selain kamu dan aku nggak ingin sakiti dia. Aku udah janji ke diri aku sendiri untuk nikah dengan dia, Diy. Sampai kamu mohon-mohon supaya aku mau kembali jadi pasangan kamu. Kamu ajak aku keluar setiap hari. Kamu nelfon aku tiap malem (padahal kamu tahu hape CDMA aku baru aja ilang, dan kamu tetep rela menghabiskan pulsamu untuk nelfon nomor GSMku). Kamu berusaha nyenengin aku. Kamu janji untuk nggak bersikap seperti yang dulu lagi. Tapi aku tetep nggak bisa, Diy. Benteng pertahanan aku lemah, apalagi kalo kamu yang nyerang.

Aku mulai berusaha bisa terima kamu lagi, walaupun sejujurnya aku masih takut kamu akan kembali seperti yang dulu lagi. Beberapa bulan setelahnya pun, aku masih bertanya-tanya, sampai kapan kamu kuat bertahan menjadi orang yang aku tahu bukan kamu banget.

Baru setengah tahun setelahnya dan kamu nggak kembali seperti dulu, aku percaya kamu lagi. Aku percaya kamu nggak akan sakiti aku lagi. Tapi nggak selang lama setelah kepercayaan aku pulih, kamu mulai sakiti aku lagi, Diy. Memang kamu nggak bilang apa-apa, tapi sikap kamu ke aku bikin aku merasa nggak ada gunanya di mata kamu, Diy. Aku sempat mulai krisis pede lagi. Tapi aku berusaha terima semuanya.

Inget, Diy. Sesakit apapun itu, asalkan kamu masih ingin aku di sisimu, akan aku telan semua, tanpa kompromi.

Terserah kamu, Diy. Kamu mau ngatain aku apaaa aja, aku terima, Diy. Aku nggak bisa bantah kamu. Aku nggak bisa tolak semua yang kamu tujukan ke aku. Aku cuma… nggak bisa. Semua yang kamu katakan tentang aku, emang benar adanya. Itu juga yang bikin aku heran. Kalo kamu emang udah kenal aku begitu dalam, kenapa kamu masih aja tanya lagi ke aku. Aku cuma manusia biasa, Diy, banyak kelemahan dan kekurangan. Ada saat-saat dimana aku nggak bisa nahan emosi aku. Aku nggak ingin jadi pemarah, Diy. Aku nggak ingin nyimpen bom waktu. Aku cuma ingin nyimpen semuanya sendiri. Tapi tolong, jangan paksa aku untuk muntahin semua.

Yang perlu kamu tahu, Diy: dalam hidupku ini, belum pernah aku bisa mencintai orang lain sedalam aku cinta kamu. Bahkan setelah kita sempat nggak berhubungan dan aku mencoba hubungan dengan orang lain, aku tetap nggak bisa mencintai dia sedalam aku cinta kamu. Aku nggak bisa lupain kamu, Diy. Aku nggak pernah bisa nemuin orang lain sebaik kamu, secerdas kamu, se-humble kamu, sekeras kamu. Aku nggak bisa menemukan orang yang begitu mengenal aku, mengerem semua tindakan konyolku, menyayangi aku apa adanya, menerima segala kekuranganku, sebaik kamu melakukannya. *cinta mati nih, ceritanya. Well, intinya, aku cuma cinta kamu, Diy. Aku ulang lagi ya? Seberapa pun menyakitkannya, asalkan aku masih tetap bisa miliki kamu, asalkan kamu masih sayang aku, aku terima semuanya, Diy. SEMUANYA!

Jadi aku putuskan begini aja: aku akan pergi ke luar kota sebentar, sampai batas waktu yang nggak ditentukan; dan kamu tetap ada di hati aku. Aku cuma pergi sementara waktu, sampai kamu selesai mempersiapkan semua yang menjadi impian kamu. Kalau kamu sudah siap untuk menjadikan aku pasanganmu, di setiap kejadian dalam hidupmu, di sisa umur kita, kamu tahu kemana harus menghubungi aku. (FYI, aku juga attach hasil scan tiket pesawat aku. In case kamu menyesal udah kehilangan aku, hahaha…)

*

Bandara, 10.50

Gue nggak tahu gimana lusuh dan kucelnya wajah gue sekarang ini. Yang gue tahu, kepala gue sakit banget, jantung gue nggak pernah berdetak teratur 2 hari belakangan, mata bengkak (sumpah, gue capek nangis), dan ingus nggak berhenti mengalir di lubang hidung.

Meski begitu, ada rasa lega dalam benak dan kalbu gue. Gue udah kirimin email tentang perasaan gue sebenarnya ke Didiy. Yah, walaupun kirimnya sebelum gue berangkat ke bandara, tapi gue yakin, Didiy nggak mungkin baca jam segini. Ini kan jam tidurnya dia. In case dia nggak ngecek email, gue juga udah kirimi dia sms notifikasi.

Nah, masalahnya, gue berangkat ke bandaranya kepagian. Pesawat gue baru take off jam 12.10, yang artinya boarding sekitar jam 11.40. Pulsa gue habis, dan gue masih males beli. Pinginnya sih ntar aja kalo gue udah nemu tempat buat kos, baru deh gue beli. Hahaha… Jadi gue nggak bisa sms, chatting, ato browsing.

Gue duduk bengong nggak tahu apa yang harus gue lakukan selama beberapa lama, sampai akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar ruang tunggu boarding. Udah beberapa kios gue masukin, tapi nggak ada yang menarik. Untung aja udah ada panggilan boarding. Gue segera masuk dan langsung ikut berdiri di barisan antrian boarding.

Tiba-tiba aja ada yang menarik tangan gue sampai gue keluar barisan antrian.

Didiy!

Ngapain coba dia disini? Bukannya ini waktunya dia tidur?

“Tolong Ta, jangan pergi. Saya nggak bisa bayangkan hidup saya tanpa kamu di sisi saya. Saya nggak bisa kehilangan kamu, lagi,” dia masih aja sibuk mengatur nafasnya, sementara tangannya masih menggenggam tangan gue. Kenceng banget. Sakit. Gue nggak tahu bahwa ternyata mencintai seorang Didiy memang harus sesakit ini.

“Saya tahu kamu sudah terlalu banyak saya sakiti, dan kamu masih aja sabar menghadapi saya yang keras ini. Saya nggak sanggup kalau saya harus merasakan sakitnya kehilangan kamu,” dia merogoh saku jaketnya.

Dia berlutut! Oh, my… Apa sih yang akan dia lakukan setelah ini? Gue rasa dia udah mulai gila. “Saya ingin menjadikan kamu teman hidup saya, ibu dari anak-anak saya. Tolong, jangan pergi. Menikahlah dengan saya,” dia membuka sebuah kotak dan memasangkan cincin di jari manis gue.

Ini kelas bukan Didiy yang gue kenal. Tapi dia sampe rela menjadi orang lain demi menghalangi kepergian gue. I am so touched. Lagian, kapan dia beli cincinnya yah? Kok gue nggak tahu?

Didiy menatap mata gue dalam-dalam. Gue minta Didiy untuk berdiri dan memeluk dia kenceng-kenceng. “Aku mau,” bisik gue lirih di telinganya.
Dari mata gue yang udah bengkak sampe nggak berbentuk lagi ini, gue harus menangis lagi. Tapi gue yakin, kali ini bukan air mata yang menyakitkan untuk gue.

alternate text

Hampir semua anak-anak di dunia ini memiliki angan, terutama anak-anak perempuan. Angan bahwa suatu hari dia akan menikah dengan seseorang yang tampan, baik hati, rendah hati, tidak sombong, dan sederet sikap bermoral lainnya.

Aku sendiri memiliki angan itu, meski menurutku sendiri datangnya agak sedikit terlambat. Angan itu baru melintas dibenakku ketika aku berusia 13 tahun, meski itu hanya sebatas angan atas apa yang aku harap dari kekasihku kelak, sebatas fisik. Aku ingin kekasihku kelak orangnya tinggi, putih, berkacamata, bertopi, pandai memainkan alat musik mellow (seperti gitar akustik, piano, violin).

Angan itu terus hinggap di benak selama bertahun-tahun, tapi entah kenapa, belum ada keinginan dari hati untuk mulai mencari orang berciri-ciri seperti yang ada di dalam anganku tadi.

Memasuki SMA baru aku memulai pencarian itu. Dimulai dari coba-coba, karena aku benar-benar mencari yang fisiknya sesuai dengan anganku. Well, 3 dari 5 kriteria terpenuhi is not too bad, kan? Dia anak band, putih, bertopi dan mahir sekali memainkan gitar akustik. Tapi tidak lama, karena kepribadiannya ternyata minus sekali. Suka gonta-ganti cewek, hobi hura-hura, bermuka dua. Ah, sepertinya cerita ini akan sulit selesai kalau aku terus menceritakan keburukannya.

Jadi aku mulai mencari lagi. Tapi karena sudah kepentok dengan yang pertama tadi, kriteria yang aku tetapkan kunaikkan lebih tinggi lagi. Kali ini kutambah attitude. Anganku, aku ingin kekasihku kelak adalah orang yang baik, jujur, terbuka, komunikatif, dan menyayangiku apa adanya.

Selama 5 tahun aku mencari, bertemu berbagai macam orang, menjalani berbagai bentuk hubungan, bahkan tidak jarang sampai musuhan sampai saat ini. Tapi tetap, aku tidak menemukan apa yang kucari. Sedikit mendekati pun tidak.

Suatu malam, dalam kebosanan diri, kutelusuri malam. Terhenti di sebuah toko buku, dan aku mencari kosong. Saat aku berada di pojok di bagian sastra, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku menoleh, ternyata seorang saudara jauh. Dia lalu mengenalkan temannya. Aku menjabat tangan teman saudaraku sambil memandang matanya. Kurang jelas aku mendengar namanya, tapi karena aku malu menanyakannya lagi, aku diam.

Malam itu, pencarianku terhenti. Cukup. Teman saudaraku tadi, besoknya aku tahu namanya, Kei, kupikir adalah orang yang kucari selama ini. Sulit tidur adalah yang kemudian menjadi masalahku malam-malam setelah aku bertemu Kei. Setiap detil gurat wajahnya tergambar sempurna dalam benakku. Putih, tinggi, berkacamata. Itu cukup. Sudah lebih dari 50 persen kriteria fisik terpenuhi.

Hampir setiap hari aku bertemu dengan Kei. Aku semakin mengenalnya. Kriteria attitude 80 persen terpenuhi. Sempurna. Tapi setelah aku semakin mengenal Kei, kenyataan pahit harus aku terima. Bahwa ternyata dia sudah punya pasangan. Hatiku remuk tak berbentuk.

Aku kehilangan dia, pikirku sakit.

Aku melanjutkan pencarianku yang kupikir telah terhenti. Sementara, semakin hari, aku semakin dekat dengan Kei, dengan batasan sekedar sahabat. Tiga tahun lebih aku bersahabat dengan Kei. Tepat di tahun ketiga hubunganku dengan orang lain, aku memutuskan untuk mengakihiri. Sudah tidak ada yang patut untuk dipertahankan dan diperjuangkan lebih. Tapi tetap, dalam hubunganku dengan orang lain itu, aku berharap untuk tetap bisa menjadi pasangan Kei. Apakah itu bisa dikategorikan selingkuh? Selingkuh dari pasanganku saat itu, mungkin iya. Tapi kalo dari Kei? Aku rasa tidak. Aku bahkan sudah berharap jadi pasangan Kei sebelum aku menjalin hubungan dengan orang lain.

Aku masih saja terus berpikir bahwa aku telah kehilangan kesempatan untuk bisa jadi pasangan Kei. Sebuah kejadiaan tak terduga melambungkan lagi angan dan harapan yang selama ini aku simpan. Tepat 3 tahun 5 bulan usia persahabatanku dengan Kei, semuanya nyata. Aku adalah pasangan Kei.

Bahagia itu menjadi lebih nyata ketika Kei mengungkapkan bahwa dia ingin akulah yang menjadi teman hidupnya sampai akhir usia nanti. Dan sepertinya, Tuhan tidak membiarkanku berhenti berbahagia, ketika kedua belah keluarga merestui hubunganku dan Kei.

Hari pernikahan kami telah ditetapkan, segala perlengkapan dan semua tetek bengek pernikahan dipersiapkan. Semua tampak begitu mudah. Begitu indah.

Hingga hari itu tiba, hari ketika menurut keluargaku Kei tak mampu menjagaku dan keluargaku. Secara sepihak keluargaku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Kei. Semua persiapan yang sudah terbayar uang mukanya, dibatalkan semua.

Aku tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Menurutku Kei tetaplah seorang penjagaku yang paling baik. Kei tetaplah seorang pembimbing yang paling baik. Kei tetaplah laki-laki nyata dari semua anganku. Aku tetaplah aku, yang mencintai Kei selama bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai nanti entah kapan. Yang tetap menginginkan Kei sebagai partner dalam menjalani sisa hidup sampai salah satu dari kami harus Pulang ke Rumah.

Aku dilarang menemui Kei. Wow! Itu sakit.

Aku kehilangan dia, sekali lagi.

Aku mencoba mencari kegiatan sebanyak mungkin. Melanjutkan mengerjakan skripsi. Ikut workshop dan lomba buat ide cerita. Well, kebetulan masuk dalam tim produksi dan tadaa.. Aku adalah seorang scriptwriter.

Aku mulai sibuk meeting untuk produksi film yang deadline hanya kurang lebih tiga minggu. Hari itu, meeting diadakan di sekretariat UKM sinematografi sebuah universitas. Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat Kei. Saat aku berjalan menuju warung makan, aku melihat sekilas ke warung tempat Kei biasa nongkrong bersama teman-temannya sampai pagi.

Tidak ada Kei disana, you fool!, kataku. Aku lalu membeli makan.

Aku sedang berjalan kembali ke sekretariat, ketika telpon selulerku bergetar.

Kei. Setelah sekian lama.

Belum sampai aku bilang ‘halo’, Kei sudah nyerocos menyebutkan baju yang sedang kukenakan saat itu. Spontan, aku melihat ke sekeliling. Mataku terhenti di warung yang tadi sempat kulihat untuk mencari Kei.

Ada. Sejak kapan dia disitu? Tadi belum ada.

Aku langsung menghampiri Kei. Berbincang cukup lama, sampai akhirnya Kei memutuskan untuk menelponku malam nanti. Aku bahagia. Aku bahagia sekali.

Sejarah berulang. Aku dan Kei kembali dekat. Aku dan Kei kembali merasakan getaran itu. Kei bahkan sempat mengutarakan bahwa dia tak rela melihatku didekati orang lain selain dirinya. Dia tak ingin melihatku jalan dengan orang lain. Dan yang paling mengejutkan, dia bilang dia mencintaiku, lebih dari saat-saat kapan pun dia bersamaku, dan tak ingin kehilangan aku sampai kapan pun. I couldn’t ask for more! This is all what I need. He means the world to me.

Aku dan Kei sudah menetapkan komitmen, sekali lagi. Kami akan mencoba lagi, perlahan-lahan. Menjalani semua apa adanya. Toleransi, komunikasi, kejujuran, pengertian, keterbukaan. Aku adalah Kei. Kei adalah aku.

Jika dulu aku melakukan pencarian kekasih yang sempurna, sesuai anganku, kini pencarian itu telah usai. Tidak ada lagi selain aku dan Kei.

Larangan keluargaku untuk menemui Kei bagaimana pun caranya? Larangan itu tidak pergi ke mana-mana. Masih ada dan berlaku. Tapi sekarang aku tidak sendiri lagi. Aku lebih kuat dan tegar. Dan aku siap menghadapi ‘tantangan’ itu. Karena kini ada Kei di sisiku.

alternate text

Aku yakin bahwa sebuah persahabatan adalah sebuah tangan yang tak lekang karena jarak dan waktu. Walau ia semuda embun, tak setua senja. Tapi kenapa aku merasa tangan dan rautmu semakin hilang bentuk?

Hujan telah menampakkan wajahnya yang purba. Ia merengkuh gigil yang santun saat warna hijau wajahmu menempel di garis dagu. Adakah kini kau menyimpan dan merawat rautku?

Saat ini, rintik hujan menderas tak mau reda. Saat ini dingin melangut suasana. Saat ini remang cahaya adalah kemah wajah yang tak lelah kurindu; wajahmu.

Tiba-tiba rindu ini kembali bergemeretak lagi di dadaku. Telah kurangkai rautmu, tapi hujan meluluhkannya. Adakah angin kan melesapkan di mimpiku?

Aku mendengar suaramu seperti musim semi, yang rekahnya selalu menyimpang angin sejuk. Adakah ia telah ranum? Sebelum kaumekarkan harummu, kuingin tetap melantun ucap.