Taura, 10.10
Aku masih belum juga bisa memejamkan mataku. Rasanya nggak percaya aja kalo sekarang aku udah resmi jadi pacar Miko. Mungkin bagi kamu biasa aja, tapi bagi aku, ini sangat luar biasa. Bayangin aja, kalau diitung-itung, aku suka Miko udah sejak 3 tahun yang lalu. Tapi waktu itu dia udah punya cewek. Ya udahlah, aku diem. Eh ternyata, yang deketin aku malah sahabatnya. Waktu sahabatnya minta aku jadi pacarnya, aku iyain aja. Gimana lagi? That’s the only way I can be around Miko. Bener aja, hampir tiap hari aku ketemu Miko.
Aku sabar-sabarin aja jadi cewek sahabat Miko. Selama 3 tahun aku jadi cewek sahabatnya, padahal aku udah nggak tahan dan pengen putus sejak lewat tahun pertama aku jadian sama sahabatnya.
Dan sebenernya, aku udah agak-agak dongkol dan hopeless. Udah berkali-kali aku kasih sinyal kalo yang aku suka tuh Miko, tapi dia masih aja nggak ngeh. Tapi entah kenapa, tadi siang waktu aku minta dia menemaniku beli laptop, jalan di sebelahnya aja jantungku udah detak cepet banget dan nggak teratur.
Begitu sampe rumah, kutimbang-timbang lagi dan berusaha mengingat apa yang sudah dia lakukan untukku. Maksudku, aku nggak berniat untuk jadi matre. Aku hanya ingin memastikan, kalo aku yang duluan minta dia jadi cowok aku, dia mau ato nolak.
Akhirnya tadi sore, aku bulatkan tekad untuk bilang ke Miko secepatnya. Nggak disangka, dia langsung oke aja. Aku bahagia banget! Inget ya? Sekarang tanggal 10 Oktober!
Miko, 10/10
Saya bukannya sombong. Saya juga nggak mau sok laku. Saya juga bukannya belum mau menikah. Siapa orangya sih, di umur yang sudah cukup ini menikah dengan orang yang dicintai. Sungguh, saya mencintai Taura segenap hati saya. Hanya saja yang membuat saya nggak tahan dengannya, kenapa dia nggak juga mengerti bahwa menikah itu nggak segampang itu. Saking kesalnya, waktu itu saya bentak saja dia dan mengatakan bahwa saya masih belum mau menikah.
Nggak saya sangka, bentakan saya malah membuatnya mundur teratur. Perlahan dan luput dari pandangan saya. Saya baru menyadari ketika saya baca blog pribadinya yang mengatakan bahwa dia sudah punya orang lain. Bahkan orang itu sudah menyatakan ingin menikahi Taura. Dia sudah mengenalkan Taura pada orang tuanya. Dia bahkan sudah menanyakan pada Taura model cincin seperti apa yang Taura suka!
Kalau saja waktu itu saya nggak gencar mengejar Taura kembali agar saya bisa bersamanya lagi, mungkin saya tidak akan mencari orang lain lagi. Biarkan saja saya sendiri sepanjang sisa umur saya. Ya, kalau dulu saya hanya menelpon Taura dua minggu sekali, waktu itu saya menelponnya di setiap waktu bangun saya. Saya nggak mampu kerja! Yang ada di otak saya hanya bayangan akan jadi apa hidup saya tanpa Taura. Bagaimana jika Taura nggak bisa saya raih kembali. Kalau dulu saya hanya mau menemui Taura sebulan sekali (padahal saya dan Taura berada di satu kota), waktu itu saya mengajaknya bertemu setiap hari.
Tuhan, saya seperti orang gila saja waktu itu. Bagaimana tidak? Hidup saya waktu itu hanya untuk Taura. Tidur, hanya Taura yang masuk di mimpi saya. Bangun tidur langsung menelpon Taura, sampai sekitar dua jam, hanya untuk merayunya supaya mau menemui saya hari itu. Begitu dia setuju, saya mandi dan menjemput Taura. Lagi-lagi, sepanjang bertemu Taura – yang ternyata cantik, baru saya sadari – yang saya bicarakan padanya hanyalah rayuan dan janji-janji saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama di hari depan. Kalau dulu saya membiarkan dia sendiri kemana pun dia pergi, waktu itu saya rela mengantarkannya kemana saja, asalkan saya bisa melihat wajahnya yang mengagumkan itu satu hari lagi.
Setelah sekitar satu minggu saya melakukan itu semua, akhirnya Taura luluh. Saya bisa merengkuhnya kembali ke pelukan saya. Ketika Taura tidak di samping saya, baru saya sadari bahwa ternyata Tauralah yang selalu ada untuk saya. Bahkan ketika saya masih tenggelam dalam masa lalu saya, dia ada untuk saya. Ketika saya menyakitinya, dia masih bertahan untuk saya. Dia menganggap saya segalanya, tapi saya malah mensia-siakan dan menyakitinya. Begitu bodohnya saya tidak pernah melihat itu sebelumnya.
Hmmhh.. Mengingat masa lalu memang melelahkan. Siapa yang peduli dengan masa lalu saya dan Taura yang buruk. Taura sudah di genggaman saya sekarang, dan tidak ada masalah sedikit pun kapan saya akan menikahinya. Bagi saya, Taura adalah segalanya. Taura adalah hidup saya. Saya dan Taura sudah bahagia sekarang.
Nilai Taura di mata saya: 10, dari rentang 1 sampai 10!
Aline, 10:10
Waktu dulu Taura belum jadian sama Miko, gue udah pernah bilang sama Taura, kalo dia pasti akan jadian sama Miko. Dia nggak percaya gue. Padahal, nggak sampe seminggu setelah gue bilang itu ke Taura mereka jadian.
Waktu Taura udah jadian sama Miko, gue juga udah pernah bilang, kalo Miko itu jodoh dia. Cepet atau lambat, percaya ato nggak, dia pasti akan menikah dengan Miko. Bisa ditebak lah, Taura juga nggak percaya dengan omongan gue.
Bukannya gue pengen ngungkit peranan gue dalam setiap keputusan Taura. Gue cuma gemes aja sama Taura. Hello? Gue sahabat dia dari esde gitu? Yang udah tau busuk-busuknya dia juga. Percaya gue sedikit apa salahnya sih?
Hhh… Tapi udahlah, yang penting sekarang gue bahagia banget. Taura, sahabat gue yang tukang ngeyel itu, jam 10 lewat 10 ini udah resmi jadi istri Miko.***






