alternate text

Hampir semua anak-anak di dunia ini memiliki angan, terutama anak-anak perempuan. Angan bahwa suatu hari dia akan menikah dengan seseorang yang tampan, baik hati, rendah hati, tidak sombong, dan sederet sikap bermoral lainnya.

Aku sendiri memiliki angan itu, meski menurutku sendiri datangnya agak sedikit terlambat. Angan itu baru melintas dibenakku ketika aku berusia 13 tahun, meski itu hanya sebatas angan atas apa yang aku harap dari kekasihku kelak, sebatas fisik. Aku ingin kekasihku kelak orangnya tinggi, putih, berkacamata, bertopi, pandai memainkan alat musik mellow (seperti gitar akustik, piano, violin).

Angan itu terus hinggap di benak selama bertahun-tahun, tapi entah kenapa, belum ada keinginan dari hati untuk mulai mencari orang berciri-ciri seperti yang ada di dalam anganku tadi.

Memasuki SMA baru aku memulai pencarian itu. Dimulai dari coba-coba, karena aku benar-benar mencari yang fisiknya sesuai dengan anganku. Well, 3 dari 5 kriteria terpenuhi is not too bad, kan? Dia anak band, putih, bertopi dan mahir sekali memainkan gitar akustik. Tapi tidak lama, karena kepribadiannya ternyata minus sekali. Suka gonta-ganti cewek, hobi hura-hura, bermuka dua. Ah, sepertinya cerita ini akan sulit selesai kalau aku terus menceritakan keburukannya.

Jadi aku mulai mencari lagi. Tapi karena sudah kepentok dengan yang pertama tadi, kriteria yang aku tetapkan kunaikkan lebih tinggi lagi. Kali ini kutambah attitude. Anganku, aku ingin kekasihku kelak adalah orang yang baik, jujur, terbuka, komunikatif, dan menyayangiku apa adanya.

Selama 5 tahun aku mencari, bertemu berbagai macam orang, menjalani berbagai bentuk hubungan, bahkan tidak jarang sampai musuhan sampai saat ini. Tapi tetap, aku tidak menemukan apa yang kucari. Sedikit mendekati pun tidak.

Suatu malam, dalam kebosanan diri, kutelusuri malam. Terhenti di sebuah toko buku, dan aku mencari kosong. Saat aku berada di pojok di bagian sastra, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku menoleh, ternyata seorang saudara jauh. Dia lalu mengenalkan temannya. Aku menjabat tangan teman saudaraku sambil memandang matanya. Kurang jelas aku mendengar namanya, tapi karena aku malu menanyakannya lagi, aku diam.

Malam itu, pencarianku terhenti. Cukup. Teman saudaraku tadi, besoknya aku tahu namanya, Kei, kupikir adalah orang yang kucari selama ini. Sulit tidur adalah yang kemudian menjadi masalahku malam-malam setelah aku bertemu Kei. Setiap detil gurat wajahnya tergambar sempurna dalam benakku. Putih, tinggi, berkacamata. Itu cukup. Sudah lebih dari 50 persen kriteria fisik terpenuhi.

Hampir setiap hari aku bertemu dengan Kei. Aku semakin mengenalnya. Kriteria attitude 80 persen terpenuhi. Sempurna. Tapi setelah aku semakin mengenal Kei, kenyataan pahit harus aku terima. Bahwa ternyata dia sudah punya pasangan. Hatiku remuk tak berbentuk.

Aku kehilangan dia, pikirku sakit.

Aku melanjutkan pencarianku yang kupikir telah terhenti. Sementara, semakin hari, aku semakin dekat dengan Kei, dengan batasan sekedar sahabat. Tiga tahun lebih aku bersahabat dengan Kei. Tepat di tahun ketiga hubunganku dengan orang lain, aku memutuskan untuk mengakihiri. Sudah tidak ada yang patut untuk dipertahankan dan diperjuangkan lebih. Tapi tetap, dalam hubunganku dengan orang lain itu, aku berharap untuk tetap bisa menjadi pasangan Kei. Apakah itu bisa dikategorikan selingkuh? Selingkuh dari pasanganku saat itu, mungkin iya. Tapi kalo dari Kei? Aku rasa tidak. Aku bahkan sudah berharap jadi pasangan Kei sebelum aku menjalin hubungan dengan orang lain.

Aku masih saja terus berpikir bahwa aku telah kehilangan kesempatan untuk bisa jadi pasangan Kei. Sebuah kejadiaan tak terduga melambungkan lagi angan dan harapan yang selama ini aku simpan. Tepat 3 tahun 5 bulan usia persahabatanku dengan Kei, semuanya nyata. Aku adalah pasangan Kei.

Bahagia itu menjadi lebih nyata ketika Kei mengungkapkan bahwa dia ingin akulah yang menjadi teman hidupnya sampai akhir usia nanti. Dan sepertinya, Tuhan tidak membiarkanku berhenti berbahagia, ketika kedua belah keluarga merestui hubunganku dan Kei.

Hari pernikahan kami telah ditetapkan, segala perlengkapan dan semua tetek bengek pernikahan dipersiapkan. Semua tampak begitu mudah. Begitu indah.

Hingga hari itu tiba, hari ketika menurut keluargaku Kei tak mampu menjagaku dan keluargaku. Secara sepihak keluargaku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Kei. Semua persiapan yang sudah terbayar uang mukanya, dibatalkan semua.

Aku tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Menurutku Kei tetaplah seorang penjagaku yang paling baik. Kei tetaplah seorang pembimbing yang paling baik. Kei tetaplah laki-laki nyata dari semua anganku. Aku tetaplah aku, yang mencintai Kei selama bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai nanti entah kapan. Yang tetap menginginkan Kei sebagai partner dalam menjalani sisa hidup sampai salah satu dari kami harus Pulang ke Rumah.

Aku dilarang menemui Kei. Wow! Itu sakit.

Aku kehilangan dia, sekali lagi.

Aku mencoba mencari kegiatan sebanyak mungkin. Melanjutkan mengerjakan skripsi. Ikut workshop dan lomba buat ide cerita. Well, kebetulan masuk dalam tim produksi dan tadaa.. Aku adalah seorang scriptwriter.

Aku mulai sibuk meeting untuk produksi film yang deadline hanya kurang lebih tiga minggu. Hari itu, meeting diadakan di sekretariat UKM sinematografi sebuah universitas. Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat Kei. Saat aku berjalan menuju warung makan, aku melihat sekilas ke warung tempat Kei biasa nongkrong bersama teman-temannya sampai pagi.

Tidak ada Kei disana, you fool!, kataku. Aku lalu membeli makan.

Aku sedang berjalan kembali ke sekretariat, ketika telpon selulerku bergetar.

Kei. Setelah sekian lama.

Belum sampai aku bilang ‘halo’, Kei sudah nyerocos menyebutkan baju yang sedang kukenakan saat itu. Spontan, aku melihat ke sekeliling. Mataku terhenti di warung yang tadi sempat kulihat untuk mencari Kei.

Ada. Sejak kapan dia disitu? Tadi belum ada.

Aku langsung menghampiri Kei. Berbincang cukup lama, sampai akhirnya Kei memutuskan untuk menelponku malam nanti. Aku bahagia. Aku bahagia sekali.

Sejarah berulang. Aku dan Kei kembali dekat. Aku dan Kei kembali merasakan getaran itu. Kei bahkan sempat mengutarakan bahwa dia tak rela melihatku didekati orang lain selain dirinya. Dia tak ingin melihatku jalan dengan orang lain. Dan yang paling mengejutkan, dia bilang dia mencintaiku, lebih dari saat-saat kapan pun dia bersamaku, dan tak ingin kehilangan aku sampai kapan pun. I couldn’t ask for more! This is all what I need. He means the world to me.

Aku dan Kei sudah menetapkan komitmen, sekali lagi. Kami akan mencoba lagi, perlahan-lahan. Menjalani semua apa adanya. Toleransi, komunikasi, kejujuran, pengertian, keterbukaan. Aku adalah Kei. Kei adalah aku.

Jika dulu aku melakukan pencarian kekasih yang sempurna, sesuai anganku, kini pencarian itu telah usai. Tidak ada lagi selain aku dan Kei.

Larangan keluargaku untuk menemui Kei bagaimana pun caranya? Larangan itu tidak pergi ke mana-mana. Masih ada dan berlaku. Tapi sekarang aku tidak sendiri lagi. Aku lebih kuat dan tegar. Dan aku siap menghadapi ‘tantangan’ itu. Karena kini ada Kei di sisiku.

alternate text

Untuk kesekian kalinya kami hanya diam, aku dan Emakku. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Di dipan reot depan rumah kami ini, lagi-lagi kami bersama. Entah merenung, entah bersyukur, entah meratapi nasib.

Ini hari kedua aku bebas. Tidak seperti biasanya, Emak lebih banyak diam. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. Entah mengapa. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku, yang menurutku sendiri tidaklah bengkok.

Menurut Sardi, adikku yang nomer dua, sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya, Emak tidak lagi menangis. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu, tetapi Emak hanya menggeleng. Aneh.

Aku sendiri sebenarnya penasaran. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu, aku sempat dua hari tidak bisa tidur. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. Aku jadi begitu rindu pada Emak. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku.

Sebulan sebelum pembebasanku, Rani, adik pertamaku, datang menjenguk. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak. Aku makan lahap sekali waktu itu. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi, perubahan Emak dan perasaanku. Di luar dugaanku, Rani malah menangis sesenggukan.

“Ibu sakit, Bang. Sudah dua hari ini. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Ibu menitip pesan untuk Abang, ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa.’ Ibu rindu pada Abang.”

Seketika itu nafsu makanku lenyap. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. Biarlah, sudah rejekinya.

“Sudah kau bawa ke dokter?”

“Belum. Sardi sedang tidak ada di rumah. Mengantar barang ke Cirebon. Nanti malam dia pulang bawa uang.“

Ah. Lagi-lagi. Masalah yang sama.

Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga, akan berkurang juga beban hidup. Tetapi ternyata belum cukup. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. Aku berikan bagianku pada Sardi. Seperti biasa, Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. Kepergiannya tentulah bukanlah ke Cirebon. Aku sendiri tidak tahu di mana. Tetapi yang jelas, tempat persembunyian itu pastilah aman. Sudah terbukti, dia tidak dipenjara.

“Sudahlah, kau tenang saja. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak.”

Rani, adikku yang bersih itu, menggangguk saja. Sebelum pulang, kupeluk dia dan kucium keningnya. Aku terharu. Rani sangat baik. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku.

“Abang baik-baiklah. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. Ingat pesan Emak ya.“

Sepeninggal Rani, kebisuanku semakin menjadi. Hari-hariku kuisi dengan melamun. Aku terus memikirkan kata-kata Emak. ’Banyak-banyaklah berdoa’. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. Seingatku, aku tidak lupa berdoa. Sebelum melakukan aksiku, aku selalu berdoa. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar.”, “Semoga kali ini tidak gagal.”, “Ya Tuhan Emakku sakit, aku butuh uang.”, dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan.

Supri, teman satu sel, memperhatikan keadaanku. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu, dia terlihat lebih menyenangkan.

“Aku sedang bingung.”

“Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas.”

“Bukan masalah itu, Pri. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. Dia memintaku banyak-banyak berdoa.“

“Ooo. Bagus lah.“

“Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi. Meminta kelancaran.“

“Mungkin doa yang lain, Lim.“

“Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah, itu basi. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini. Makan, minum, tidur gratis. Yah, anggap saja pengiritan.”

“Hahaha…ada-ada saja kau ini. Ngirit kok terus.”

“Lha, trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat. Apa kau pikir aku ini kaya, hah?”

“Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?”

“Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa, Pri. Asal bisa makan, bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit, itu sudah bagus. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“

“Hahaha…ada-ada saja kau.“

“Eh, tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“

“Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah.“

“Ooo…gitu ya. Oke lah, aku akan berdoa minta kaya kalau begitu. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran.”

Sejak percakapan itu, aku dan Supri menjadi akrab. Kami sering ngobrol masalah ini itu. Baru aku tahu, bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. Dia tidak hanya mencuri, tetapi juga mbegal dan membunuh. Hukumannya kali ini bukan yang pertama, tetapi yang paling lama. Katanya, korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. Karena tidak berhasil, laki-laki itu membunuh istrinya. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. Impas.

Seminggu sebelum hari bebasku, aku kehilangan Supri. Dia meninggal. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. Aku sedih sekali. Aku seperti kehilangan teman berbagi.

Tidak banyak barang peninggalan Supri, hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. Foto-foto itu tidak menarik perhatianku. Karena memang aku tidak kenal mereka. Buku catatan itu jauh lebih menarik. Di sana, Supri menuliskan semua keluh kesah, perasaan dan pikirannya.

Aku takjub. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. Semuanya nampak jelas dan nyata. Supri yang pembunuh, ternyata perasa. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan.

’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran
Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging
Jika aku ini tidak lebih dari pengacau
Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang

Bukankah Kau Maha Segala
Apalah sulitnya mematikan aku
Tinggal kau tiup saja
Kun faya kun, begitu kata ustad

Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup
Berilah aku kebebasan
Jangan Kau tipu aku dengan uang
Dan jangan Kau tipu aku dengan foya

Tolonglah…
Sekali ini saja
Beri aku ini hidup yang berarti
Cukup sekali’

Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. Sepertinya, buku itu adalah warisan Supri untukku. Lanjutan dari obrolan yang terputus.

Selama seminggu menunggu sisa waktuku, aku membaca buku itu hingga selesai. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu, ‘Benar kata Emakmu. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. Kau orang baik, Lim. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. Buatlah hidupnya tenang, Lim.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa, Emak dan tenang.

Demi menemukan jawaban itu, hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Seperti biasanya, kucium tangan kanannya bolak-balik. Lalu kutempelkan di dahiku. Seperti memohon restu darinya. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.

“Mak, apa hubungan semua itu? Emak tahu?”

“Lim, Emakmu ini tidak pernah sekolah. Mana Emak tahu tentang puisi. Yang Emak tahu, berdoa itu penting.“

“Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?”

“Yang biasa saja, Lim. Emak minta agar hidup kita tenang. Sardi dan Rani lulus sekolah. Dan kamu tidak dipenjara lagi.”

“Oh. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri, kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. Enak kan, Mak. Kalo kaya, kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari.”

“Buat apa, Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Emak malah takut kena yang aneh-aneh.“

“Ah, Emak. Kan biar bisa makan di restoran. Sekali-sekali gitu.“

“Lim, Lim, sudah lah. Tidak usah neko-neko. Doa Emak dikabulkan saja, Emak sudah senang kok. Sudah tenang.“

Ah, lagi-lagi kata tenang. Permintaan Emak memang sangat sederhana. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. Pastilah mudah. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa, Emak dan tenang. Tetapi aku menyadari, bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan, Supri masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Demi melihat senyum Emakku, makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering.

Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. Anak-anak yang tadi main gundu, mulai berlari pulang ke rumah masing-masing, mengganti celana dengan sarung. Ah, lagi-lagi aku jadi teringat Supri. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. Bukan untuk merubah wajahku, tatapi agar aku bisa melihat senyum Emakku, makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering.

Cerita ini telah dipublikasikan sebelumnya di blog Vina.

alternate text

Dia bukanlah bagian dari hidupku, tidak pernah walau sedetikpun. Mengenalnya pun tidak. Dia hanyalah seseorang yang selalu duduk di tempat duduk yang sama, gerbong yang sama, kereta yang sama. Kereta yang selalu kunaiki setiap pagi bila akan berangkat ke kantor.Sebelumnya aku tak pernah menyadari dia ada, hingga aku bertatap pandang dengannya dan senyumnya yang menawan tersungging di bibirnya. Hari-hari berikutnya aku semakin sering melihatnya. Dia selalu membawa buku sketsa dan pensil yang sama, yang kian hari kian memendek. Dia selalu terlihat asyik melukis, sambil sesekali membubuhkan remah roti diatas buku sketsanya, dan sesekali melihat sekeliling.Wajahnya selalu pucat, tapi tertutupi oleh ketampanannya. Sudah lima minggu aku selalu memperhatikannya, melihatnya melukis. Aku ingin mengenalnya, tapi tertahan oleh kodrat wanita yang hanya menunggu. Sedangkan dia juga hanya mencuri pandang, dan bila tiba-tiba kami saling bertatapan, kami tersenyum.Yang membuatku terkejut adalah sikapnya kemarin. Tak kusangka-sangka dia berjalan ke arahku. Tapi kereta sudah berhenti di stasiun di dekat kantorku. Aku cepat-cepat turun. Dia berusaha mengejarku, tapi stasiun terlalu ramai.

Pagi ini aku bangun agak siang. Aku memaki diriku sendiri. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya kalau aku tidak bisa menghargai waktu? Dugaanku benar, dia tidak ada di tempat biasanya dia duduk. Dia pasti naik kereta yang sebelumnya. Hari itu aku tidak bersemangat bekerja.

* * *

Sudah dua minggu aku tidak melihatnya lagi duduk di tempat yang biasanya. Padahal sejak hari aku bangun kesiangan itu, aku selalu berangkat ke stasiun lebih pagi. Mungkin dia tidak menyukai orang yang tidak menghargai waktu, sehingga dia tidak mau menemuiku lagi.

Seperti pagi ini, aku tidak melihatnya duduk di kursinya. Aku berjalan pelan ke kursinya, dan duduk disitu. Belum lama aku duduk, seseorang memegang bahuku. Aku kaget, spontan aku berdiri dan menghadap ke orang yang memegang bahuku. Belum sempat kukeluarkan satu hurufpun, ketika lelaki itu bicara dengan lembut dan sopan.

Non, Tuan yang biasa duduk di tempat duduk ini, meinitipkan amplop ini untuk Nona. Mari ikut saya. Seperti tersihir, aku menurut saja tanpa bertanya lagi. Aku keluar kereta itu, mengikuti lelaki tadi. Dia membuka pintu sebuah mobil mewah dan mempersilakan aku masuk. Saya akan antar Nona sampai tempat kerja.

Tuan meminta Nona membuka amplop itu sesampai Nona tiba di tempat kerja. Selama perjalanan aku hanya diam. Setelah aku turun, lelaki itu berkata lagi, Silakan dibuka. Akan saya tunggu hingga Nona selesai membacanya. Itu pesan Tuan. Lalu aku membacanya.

Selamat pagi, bidadariku. Maafkan aku, aku takkan bisa lagi melihat wajahmu yang cantik itu, senyummu yang menarik itu, dan matamu yang berbinar itu. Aku takkan bisa menemuimu, lagi, sampai kapanpun. Fisikku yang lemah dan penyakitku yang kian hari kian menggerogoti tubuhku, membuat dokter memvonisku tidak boleh terlalu capai. Bersama surat ini, kuberikan dua buah lukisan hasil karyaku. Yang berlatar awan adalah bidadari yang kulihat di mimpiku, dan yang berlatar jendela gerbong itu kau. Mirip ya? Aku ingin bisa memilikimu, tapi ternyata aku tak bisa. Aku hanya bisa memandangmu, tapi bagiku itu sudah lebih dari cukup. Sekarang aku harus istirahat total di rumah, karena kondisiku yang makin parah. Maafkan aku, bidadariku. Maafkan aku bila aku selalu memperhatikanmu di kereta walau tak kausadari, bila aku ingin mengenalmu lebih jauh, dan bila mencintaimu begitu dalam, sedangkan aku tak mampu lagi walau hanya memandangmu. Terima kasih atas segala yang kau lakukan pada hidupku. Kau telah mengubah segala yang ada di diriku. Aku mencintaimu. Salam, -Bima-

Setelah kubaca, kupandang lelaki setengah baya di hadapanku. Dan tanpa aku bertanya dia berkata, Tuan berpesan agar amplop ini diserahkan setelah Tuan berpulang. Tuan telah berpulang pagi ini, pukul lima lewat dua puluh menit. Akan dimakamkan nanti pukul sepuluh. Bila Nona berkenan, Tuan ingin Nona untuk tidak masuk kerja hari ini dan melayat ke rumah duka.” Dadaku seperti tertimpa beban beribu-ribu ton.

Kudekap surat itu, kupanjatkan doa untuknya. Air mataku menitik, dan aku berbisik lirih, Aku juga mencintaimu.Lalu aku masuk mobil itu lagi. ***

alternate text

Hai, aku Coklat Leleh. Kamu tau kan? Itu loh, yang ada di dalam dirimu waktu kamu lagi kerja. Udah inget?

Sebelumnya, aku mau minta maaf kalau aku udah bikin kamu ngadat lagi. Apa sih yang keselip diantara gerigimu? Bagianku yang belum sepenuhnya meleleh yah? Well, apa pun itu, yang aku pengen kamu tau, aku ngga bisa lama-lama ada di udara kebuka. Aku mesti cepet diolah ke bentuk lain supaya aku ngga menggumpal lagi. Aku ini kan emang sudah diciptain dari sononya untuk jadi pihak yang pasif.

Kamu merhatiin ngga sih?
Masuk pabriknya SilverQueen, aku dicetak jadi pipih. Meski barusan ini ada Chunky-Bar yang sedikit lebih tebal.
Masuk pabriknya Chic Choc, aku jadi bundar dengan biskuit di tengah-tengah.
Masuk pabriknya Cha-Cha, aku jadi bulat pipih warna-warni dengan kacang di dalamnya.
Masuk pabriknya Fererro Roche, aku jadi bintil-bintil karena ada campuran serpihan kacang. Ngga cuma itu, di dalamnya ada biskuit dan sebiji gede kacang Pistachio.
Masuk pabriknya Toblerone, aku bisa jadi segitiga cantik yang ditaburi serpihan madu dan cashew-nut.
Masuk pabriknya M & M’s, whua! Aku jadi warna-warni lagi. Ada dua bentuk lagi! Satu bulat pipih, satu lagi bulat dengan kacang di dalamnya.
Dan kamu tau? Aku paling seneng masuk pabriknya Ritter Sport! Iya, disini!

Pertama, aku bisa jadi ketemu kamu.
Kedua, isinya lengkap banget, ngga kaya yang lain yang paling banyak cuma ada dua varian rasa. Tapi kalau kamu ngadat gini, aku jadi sedih.

Jadi begini, kita bisa bikin manusia-manusia itu bahagia dan berarti kalau produksinya lancar dan ngga ada yang cacat.
Kalau kamu ngadat, produksinya jadi ngga lancar kan? Apa lagi yang bikin kamu ngadat? Masalah yang sama? Kalau setau kamu itu memang tabiat, kelakuan, dan nasibku, terima aja lahh..

Aku pengen kamu inget, kalau aku ngga akan jadi indah tanpa kamu. Dan kamu ngga akan kepake kalau aku ngga ada di dirimu. Kita ini saling membutuhkan satu sama lain, kita musti bisa kerjasama, mungkin sampe waktu yang ngga bisa ditentukan. Kalau kerjaanmu ngadat melulu, awas loh lama-lama kamu bisa meledak. Kita musti hidup sampe batas usia kita, kamu udah mulai berkarat dan aku udah hampir kadaluarsa. Gimana? Kita bisa coba ini kan?
Sekali lagi, aku minta maaf kalau aku gampang menggumpal sehingga kamu jadi cepet ngadat. Gimana pun, kamu adalah tempat hidupku bergantung kok.

Dan aku janji, aku ngga akan jatuh cinta sama mesin lain selain kamu! Catet itu baik-baik!