alternate text

Bintang : Kamu sekarang pakai baju apa?
Bulan : Kaos oblong warna biru tua.
Bintang : Bawahannya?
Bulan : Celana selutut warna ungu.
Bintang : Dalamannya?
Bulan : Kenapa pertanyaanmu harus diteruskan sampai sedetil itu?
Bintang : Karena sebenarnya aku ingin bercinta denganmu saat ini.
Bulan : Dari dulu jawabanmu selalu itu. Jadi sebenarnya, kamu ingin mengenalku karena ingin berteman denganku, atau bercinta denganku?
Bintang : Awalnya hanya berteman, tapi entah kenapa makin lama aku makin menginginkanmu.
Bulan : Itu kan hanya alasanmu. Ah, sudahlah. Terserah. Jawabanmu aku terima. Lagian, kamu, toh setelah sampai di telingaku, aku tetap tak tahu kamu bohong atau jujur.
Bintang : Tapi aku tidak bohong!
Bulan : Ya sudah. Kan sudah aku terima ucapanmu.
Bintang : Jadi? Ayolah, bantu aku masturbasi sekarang.
Bulan : Tidak.
Bintang : Uhh… Ayolah. Punyaku sudah tegang sekali ini. Rasanya ingin masuk ke punyamu.
Bulan : Kamu tahu arti kata ‘tidak’ tidak sih?
Bintang : Uhh… Uhh… Sayyanghh, ahyyo bbanttu akkhuh…
Bulan : Coba katakan padaku, sebenarnya kamu bisa Bahasa Indonesia tidak sih? Aku harus menjelaskan kalau aku tidak mau pakai bahasa apa?
Bintang : Bbissha. Arrggghhhh … Tapi aku ingin melahapmu sampai habis saat ini. Kalau kau ada di dekatku, akan kubuat kau keenakan dan memintaBulanminta lagi padaku.
Bulan : Kalau kau masih saja meneruskan bahasan tentang ini, sebaiknya kamu tutup saja telponnya. Aku mau tidur.

(terdiam)

Bintang : Bener, kamu sayang aku?
Bulan : Kenapa sih, kamu selalu mempermasalahkan itu? Ngomong-ngomong, sudah masturbasi, ya?
Bintang : Sudah. Karena aku takut tidak diingini. Karena aku sudah terlalu banyak disakiti, dan sekarang aku mencari seseorang yang menyayangiku, menginginiku seutuhnya.

(terdiam)

Bulan : Aku sayang kamu. Aku juga menginginimu. Tapi tidak untuk saat ini.
Bintang : Kenapa? Apa lagi kekuranganku? Aku sudah kerja. Aku sudah punya rumah. Aku juga sudah punya kendaraan sendiri.
Bulan : Ada. Manusia tak ada yang sempurna, sayang. Begitu pun kamu.
Bintang : Apa kekuranganku? Sebutkan, aku sudah tidak sabar.
Bulan : Satu, kamu tidak punya surat nikah yang bertuliskan namamu dan namaku. Yang entah kenapa aku percaya kamu tak mampu memberikannya padaku.
Bintang : Kok bisa?
Bulan : Kenapa? Ini kekuranganmu yang kedua, agama kita berbada, kepercayaan yang kita anut tidak sama.
Bintang : Lalu kenapa?
Bulan : Ketiga, aku tahu kamu tidak akan pindah agama.
Bintang : Tidak seharusnya kita bicara mengenai ini.
Bulan : Maaf, tapi bagiku ini yang terpenting. Dan kalau toh, kamu mau pindah agama, aku tidak ingin kamu hanya sekedar pindah. Tapi juga menjalani itu semua dengan kerelaan dan kesungguhan. Dan jika seseorang meremehkan apa yang penting bagi pasangannya, yakinlah bahwa pasangan orang itu bukan aku. Karena aku takkan mau apa yang penting bagiku diremehkan pasanganku. Jika kehadiranku memang penting bagi hidupnya, maka segala yang penting bagiku akan penting juga baginya.
Bintang : Yah, kita lihat nanti sajalah. Sekarang kita jalani hubungan kita apa adanya saja.
Bulan : Kita lihat nanti sajalah. Sudah dulu, ya? Aku mau tidur.

(telpon ditutup)

alternate text

Versi 1:
Hujan sudah mulai reda. Aku harus segera pulang. Ibuku yang sedang sakit parah membutuhkan obat yang baru saja kubeli.

Persediaan di rumah sudah habis semua, sedangkan kakakku yang bekerja di luar kota baru bisa mengirimkan uang lewat anjungan tunai mandiri hari ini. Begitu mendapat kabar dari kakak uangnya sudah dikirim, aku langsung menarik tunai dan membelikan obat untuk ibu.

Aku melarikan motorku sekencang yang aku mampu. Aku tidak peduli lagi akan kaki dan celanaku yang mulai terkena bercak-bercak lumpur dan genangan air yang terciprat. Aku memasang lampu sein untuk membelok ke gang rumahku, tapi tiba-tiba saja tengkukku dihantam sesuatu. Tapi aku tak peduli, yang penting ibu harus segera minum obat. Bersambung di halaman ini

alternate text

Saat itu aku sedang duduk di sebuah depot pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut. Sambil menunggu pesananku datang, aku mengedarkan pandangan melihat sekeliling depot ini. Tatapanku terhenti pada seorang ibu yang menangis tanpa suara sambil membalas sms yang baru saja diterimanya. Tanpa ragu kudatangi ibu itu.

Permisi, Ibu, Ibu itu menengadahkan kepalanya melihatku. Boleh saya menemani Ibu disini?, tawarku sambil tersenyum. Ibu itu mengangguk pelan, tetap saja menangis.

Maaf Bu, kalau Ibu tidak keberatan, Ibu bisa cerita pada saya mengenai apa yang membuat Ibu sedih, aku mengelus punggung telapak tangan ibu itu. Saya akan coba membantu semampu saya.

Ibu itu tetap diam. Pesananku datang. Ibu tidak pesan makanan?

Saya ini, ucapnya tiba-tiba. Kuletakkan sendokku dan kusingkirkan makananku dari hadapanku. Lalu cerita mengalir begitu saja dari bibirnya.

Saya hanya seorang pembantu rumah tangga harian. Asal saya Ponorogo. Disini saya ngekos. Gaji saya kecil, Dik. Wong saya ini cuma tukang cuci dan setrika baju saja. Tapi anak saya nuakalnyaaaa ndak ketulungan, Dik. Saya baru saja disms Paklik saya, katanya Yanto ditangkep polisi. Baru mencuri tv tetangga, dia jual, terus dibelikan minuman keras.

Saya bingung, Dik. Dapat dari mana saya uang segitu besar untuk nebus Yanto? Wong gaji saya sebulan cuma cukup untuk bayar SPP-nya Yanto dan makan kami selama sebulan. Paklik manggil saya pulang Dik, katanya Yanto mau disidang. Saya ndak mau Yanto dipenjara, Dik, cerita berhenti sebentar. Ibu itu mengelap ingusnya.

Saya harus pulang dan nebus Yanto, Dik. Tapi saya ndak ada duit, tangisnya makin menjadi.

Selera makanku hilang seketika. Ibu masih mau bekerja jadi pembantu?

Mau sekali, Dik. Wong saya bisanya ya cuma itu.

Aku lalu menawarinya bekerja di rumahku. Ibu itu, yang belakangan kuketahui namanya Atun, senang bukan kepalang dan berterima kasih sambil memelukku.

Kuajak dia ke rumahku dan memberinya kamar, lalu Bu Atun menata baju-baju yang dia ambil dari kos-kosannya. Setelah itu, kupinjami dia uang sebanyak yang dia butuhkan, kuantar dia ke terminal.

Dia berjanji akan pulang dalam 3 hari dan segera menghubungiku sesampainya dia di terminal ini lagi untuk kujemput.

Hatiku terasa lega bisa membantu Bu Atun. Belum sampai aku ke gerbang keluar terminal, perutku bernyanyi makin keras.

alternate text

Soulmate

February 1st, 2007 1 Comment »

Mungkin,
Kita tidak perlu mencari soulmate terlalu serius

Karena mungkin,
Soulmate kita sudah tersedia, sudah tercipta, untuk kita, tanpa kita harus mencarinya

Karena mungkin,
Soulmate kita adalah orang yang sudah menjadi bagian dari hidup kita selama ini, hanya saja kita tidak menyadarinya

Karena mungkin, Bersambung di halaman ini