Dia menarik tubuhku kasar, merapatkan tubuhnya dengan tubuhku.
Dia memelukku, erat. Kepalaku bersandar lemas di bahunya. Tapi tanganku balasa memeluknya erat-erat, seolah tak ingin kehilangan dirinya.
Aku menangis.
Pelan dia melepas pelukan,
menghapus air mataku,
menyusuri inci demi inci wajahku,
memandang mataku dalam-dalam,
lalu mencium bibirku penuh nafsu.
Lama.
Setelahnya dia bergantian menciumi kening,
pipi,
hidung,
dan leherku.
Air mataku mengalir makin deras.
Dia memelukku sekali lagi, lembut,
sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
Kucium punggung telapak tangannya,
menunduk sambil terus pipiku dilelehi air mataku.
Terus aku menunduk,
hingga ia meninggalkanku.
Kembali ke istrinya.
June 14th, 2008 at 11:11 am
saya cukup terhanyut dengan puisi anda, saya tidak pernah menyalahkan cerita itu, cainta tak pernah salah…..
terkadang penempatannya saja tg salah