Home About Me Business(es) Blog Neighborhood Kelabu

Demi Emak, Semur Jengkol dan Nasi Uduk

Written on December 14th, 2007

Untuk kesekian kalinya kami hanya diam, aku dan Emakku. Sudah lewat dua puluh menit kami terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Di dipan reot depan rumah kami ini, lagi-lagi kami bersama. Entah merenung, entah bersyukur, entah meratapi nasib.

Ini hari kedua aku bebas. Tidak seperti biasanya, Emak lebih banyak diam. Emak tidak lagi menangis dan tidak lagi meratapi pilihanku. Entah mengapa. Mungkin saja Emak sudah habis akal meluruskan jalanku, yang menurutku sendiri tidaklah bengkok.

Menurut Sardi, adikku yang nomer dua, sejak aku kembali dipenjara untuk yang ke tujuh kalinya, Emak tidak lagi menangis. Pernah suatu ketika Sardi bertanya perihal perubahan itu, tetapi Emak hanya menggeleng. Aneh.

Aku sendiri sebenarnya penasaran. Emakku yang penyayang tidak lagi menangisi kepergianku. Sejak aku mendengar cerita Sardi itu, aku sempat dua hari tidak bisa tidur. Aku berpikir Emak sudah tidak sayang lagi padaku. Sejak saat itu aku jadi sering melamun. Aku jadi begitu rindu pada Emak. Aku ingin cepat-cepat pulang dan bertanya pada Emak perihal perubahan itu. Aku ingin memastikan bahwa Emak tetap sayang padaku.

Sebulan sebelum pembebasanku, Rani, adik pertamaku, datang menjenguk. Dia membawakanku semur jengkol dan nasi uduk buatan Emak. Aku makan lahap sekali waktu itu. Aku berpikir bahwa ini adalah bukti bahwa Emak masih sayang padaku. Aku ceritakan pada Rani tentang Sardi, perubahan Emak dan perasaanku. Di luar dugaanku, Rani malah menangis sesenggukan.

“Ibu sakit, Bang. Sudah dua hari ini. Ibu memasak semur jengkol khusus untuk Abang. Tidak ada satu pun dari kami yang boleh mencicipinya. Ibu menitip pesan untuk Abang, ‘Katakan pada Salim untuk banyak-banyak berdoa.’ Ibu rindu pada Abang.”

Seketika itu nafsu makanku lenyap. Semur dan nasi yang biasanya tandas itu kubiarkan saja dikerubungi lalat. Biarlah, sudah rejekinya.

“Sudah kau bawa ke dokter?”

“Belum. Sardi sedang tidak ada di rumah. Mengantar barang ke Cirebon. Nanti malam dia pulang bawa uang.“

Ah. Lagi-lagi. Masalah yang sama.

Aku pikir dengan hilangnya satu anggota keluarga, akan berkurang juga beban hidup. Tetapi ternyata belum cukup. Hasil curianku yang terakhir lumayan besar. Sekotak berlian itu sudah kubagi-bagi hasil penjualannya dengan Bakir. Aku berikan bagianku pada Sardi. Seperti biasa, Sardi dengan sigap mengatur penyimpanan dan pengeluaran. Kepergiannya tentulah bukanlah ke Cirebon. Aku sendiri tidak tahu di mana. Tetapi yang jelas, tempat persembunyian itu pastilah aman. Sudah terbukti, dia tidak dipenjara.

“Sudahlah, kau tenang saja. Nanti malam Sardi akan pulang membawa uang untuk kalian. Jangan lupa kau belikan obat untuk Emak.”

Rani, adikku yang bersih itu, menggangguk saja. Sebelum pulang, kupeluk dia dan kucium keningnya. Aku terharu. Rani sangat baik. Dia begitu percaya padaku dan tidak pernah sekalipun membantahku.

“Abang baik-baiklah. Sebulan lagi aku datang menjemput Abang. Ingat pesan Emak ya.“

Sepeninggal Rani, kebisuanku semakin menjadi. Hari-hariku kuisi dengan melamun. Aku terus memikirkan kata-kata Emak. ’Banyak-banyaklah berdoa’. Aku tidak mengerti apa maksud Emak. Mengapa Emak menyuruhku banyak-banyak berdoa. Seingatku, aku tidak lupa berdoa. Sebelum melakukan aksiku, aku selalu berdoa. Aku meminta kepada Tuhan agar melancarkan usahaku. ”Ya Allah semoga hari ini aku dapat tangkapan besar.”, “Semoga kali ini tidak gagal.”, “Ya Tuhan Emakku sakit, aku butuh uang.”, dan berbagai variasi lain sesuai kebutuhan.

Supri, teman satu sel, memperhatikan keadaanku. Dia bertanya tentang perubahanku yang drastis. Aku merasa dia orang yang baik dan bisa dipercaya. Apalagi sejak dia belajar sholat tiga bulan yang lalu, dia terlihat lebih menyenangkan.

“Aku sedang bingung.”

“Kenapa? Sebentar lagi kau kan bebas.”

“Bukan masalah itu, Pri. Aku bingung memikirkan nasehat Emakku. Dia memintaku banyak-banyak berdoa.“

“Ooo. Bagus lah.“

“Bagus apanya? Aku tidak mengerti harus berdoa dengan model apa lagi. Aku kan selalu berdoa setiap kali melancarkan aksi. Meminta kelancaran.“

“Mungkin doa yang lain, Lim.“

“Doa yang lain bagaimana maksudmu? Doa supaya cepat bebas dari penjara? Ah, itu basi. Aku merasa baik-baik saja hidup di penjara ini. Makan, minum, tidur gratis. Yah, anggap saja pengiritan.”

“Hahaha…ada-ada saja kau ini. Ngirit kok terus.”

“Lha, trus mau bagaimana? Sudah mencuri saja masih tetap melarat. Apa kau pikir aku ini kaya, hah?”

“Memangnya kau tidak berdoa untuk minta kaya?”

“Hahaha…ngarang!!! Aku ini orang biasa, Pri. Asal bisa makan, bayar sekolahnya Sardi dan Rani dan Emakku tidak sakit, itu sudah bagus. Lha apa kau pikir aku mencuri untuk beli mobil? Ngimpi!!! Itu mah pejabat!!!“

“Hahaha…ada-ada saja kau.“

“Eh, tapi…memangnya boleh berdoa minta yang muluk-muluk gitu?“

“Muluk-muluk bagaimana? Minta kaya? Ya bolehlah.“

“Ooo…gitu ya. Oke lah, aku akan berdoa minta kaya kalau begitu. Biar sesekali bisa merasakan makan di restoran.”

Sejak percakapan itu, aku dan Supri menjadi akrab. Kami sering ngobrol masalah ini itu. Baru aku tahu, bahwa keadaan Supri jauh lebih parah dariku. Dia tidak hanya mencuri, tetapi juga mbegal dan membunuh. Hukumannya kali ini bukan yang pertama, tetapi yang paling lama. Katanya, korban terakhirnya dia bunuh dengan terencana. Dia membunuh laki-laki itu karena alasan balas dendam. Laki-laki itu berusaha memperkosa istrinya. Karena tidak berhasil, laki-laki itu membunuh istrinya. Bangsat seperti itu memang layak menerimanya. Impas.

Seminggu sebelum hari bebasku, aku kehilangan Supri. Dia meninggal. Radang paru-paru yang menggerogoti tubuhnya sudah tidak mau toleran. Aku sedih sekali. Aku seperti kehilangan teman berbagi.

Tidak banyak barang peninggalan Supri, hanya sebuah buku catatan kusam dan beberapa lembar foto usang. Foto-foto itu tidak menarik perhatianku. Karena memang aku tidak kenal mereka. Buku catatan itu jauh lebih menarik. Di sana, Supri menuliskan semua keluh kesah, perasaan dan pikirannya.

Aku takjub. Aku membaca buku itu layaknya membaca kehidupan. Semuanya nampak jelas dan nyata. Supri yang pembunuh, ternyata perasa. Di buku itu kujumpai puisi di sana sini. Satu yang menarik perhatianku adalah ratapannya pada Tuhan.

’Jika aku ini tidak lebih dari setumpuk kotoran
Jika aku ini tidak lebih dari seonggok daging
Jika aku ini tidak lebih dari pengacau
Kenapa tidak Kau matikan saja aku sekarang

Bukankah Kau Maha Segala
Apalah sulitnya mematikan aku
Tinggal kau tiup saja
Kun faya kun, begitu kata ustad

Jika memang masih Kau ijinkan aku hidup
Berilah aku kebebasan
Jangan Kau tipu aku dengan uang
Dan jangan Kau tipu aku dengan foya

Tolonglah…
Sekali ini saja
Beri aku ini hidup yang berarti
Cukup sekali’

Aku meminta ijin kepada kepala untuk memiliki buku itu. Entah mengapa aku merasa wajib menyimpan buku itu. Sepertinya, buku itu adalah warisan Supri untukku. Lanjutan dari obrolan yang terputus.

Selama seminggu menunggu sisa waktuku, aku membaca buku itu hingga selesai. Kulipat bagian-bagian yang menarik perhatianku dan kubaca lagi dua – tiga kali. Aku mencoba mengerti kata-kata terakhir Supri waktu itu, ‘Benar kata Emakmu. Kau memang harus banyak-banyak berdoa. Kau orang baik, Lim. Pantas kalau Emakmu begitu sayang padamu. Buatlah hidupnya tenang, Lim.” Aku mencoba memahami hubungan antara doa, Emak dan tenang.

Demi menemukan jawaban itu, hari pertama bebas aku langsung menemui Emak. Seperti biasanya, kucium tangan kanannya bolak-balik. Lalu kutempelkan di dahiku. Seperti memohon restu darinya. Kuceritakan pada Emak semua hal yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.

“Mak, apa hubungan semua itu? Emak tahu?”

“Lim, Emakmu ini tidak pernah sekolah. Mana Emak tahu tentang puisi. Yang Emak tahu, berdoa itu penting.“

“Apa Emak berdoa setiap hari? Emak meminta apa?”

“Yang biasa saja, Lim. Emak minta agar hidup kita tenang. Sardi dan Rani lulus sekolah. Dan kamu tidak dipenjara lagi.”

“Oh. Kenapa Emak tidak minta jadi orang kaya? Kata Supri, kita boleh berdoa minta jadi orang kaya. Enak kan, Mak. Kalo kaya, kita tidak usah repot cari uang untuk bayar sekolah dan makan tiap hari.”

“Buat apa, Lim? Biar bisa gegayaan seperti orang-orang? Tidak usah. Emak malah takut kena yang aneh-aneh.“

“Ah, Emak. Kan biar bisa makan di restoran. Sekali-sekali gitu.“

“Lim, Lim, sudah lah. Tidak usah neko-neko. Doa Emak dikabulkan saja, Emak sudah senang kok. Sudah tenang.“

Ah, lagi-lagi kata tenang. Permintaan Emak memang sangat sederhana. Apalagi bagi Tuhan yang Maha Kuasa. Pastilah mudah. Aku masih belum begitu memahami hubungan doa, Emak dan tenang. Tetapi aku menyadari, bahwa keinginan yang sederhana tidaklah sederhana pada pelaksanaannya. Pagi-pagi buta Emakku masih harus bangun untuk membuat gorengan, Supri masih harus bersepeda ke sana ke mari mengantar koran dan Rani masih harus mencuci pakaian tetangga. Lalu aku? Apa yang kulakukan? Tidak banyak. Tetapi setidaknya aku berusaha untuk tidak kembali ke penjara. Demi melihat senyum Emakku, makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering.

Aku dan Emak masih belum beranjak dari dipan. Lamat-lamat terdengar suara adzan dari musholla di gang sebelah. Anak-anak yang tadi main gundu, mulai berlari pulang ke rumah masing-masing, mengganti celana dengan sarung. Ah, lagi-lagi aku jadi teringat Supri. Wajahnya sehabis wudhu terlihat lebih tenang. Mungkin memang sudah waktunya untukku belajar sholat seperti dia. Bukan untuk merubah wajahku, tatapi agar aku bisa melihat senyum Emakku, makan semur jengkol dan nasi uduk lebih sering.

Cerita ini telah dipublikasikan sebelumnya di blog Vina.

© (2007) Anandita Syahwinda
Design by Indonesian Theme | Sponsored by Friendster Layout

Proudly supporting Busby SEO Challenge & Klubhosting