Hampir semua anak-anak di dunia ini memiliki angan, terutama anak-anak perempuan. Angan bahwa suatu hari dia akan menikah dengan seseorang yang tampan, baik hati, rendah hati, tidak sombong, dan sederet sikap bermoral lainnya.
Aku sendiri memiliki angan itu, meski menurutku sendiri datangnya agak sedikit terlambat. Angan itu baru melintas dibenakku ketika aku berusia 13 tahun, meski itu hanya sebatas angan atas apa yang aku harap dari kekasihku kelak, sebatas fisik. Aku ingin kekasihku kelak orangnya tinggi, putih, berkacamata, bertopi, pandai memainkan alat musik mellow (seperti gitar akustik, piano, violin).
Angan itu terus hinggap di benak selama bertahun-tahun, tapi entah kenapa, belum ada keinginan dari hati untuk mulai mencari orang berciri-ciri seperti yang ada di dalam anganku tadi.
Memasuki SMA baru aku memulai pencarian itu. Dimulai dari coba-coba, karena aku benar-benar mencari yang fisiknya sesuai dengan anganku. Well, 3 dari 5 kriteria terpenuhi is not too bad, kan? Dia anak band, putih, bertopi dan mahir sekali memainkan gitar akustik. Tapi tidak lama, karena kepribadiannya ternyata minus sekali. Suka gonta-ganti cewek, hobi hura-hura, bermuka dua. Ah, sepertinya cerita ini akan sulit selesai kalau aku terus menceritakan keburukannya.
Jadi aku mulai mencari lagi. Tapi karena sudah kepentok dengan yang pertama tadi, kriteria yang aku tetapkan kunaikkan lebih tinggi lagi. Kali ini kutambah attitude. Anganku, aku ingin kekasihku kelak adalah orang yang baik, jujur, terbuka, komunikatif, dan menyayangiku apa adanya.
Selama 5 tahun aku mencari, bertemu berbagai macam orang, menjalani berbagai bentuk hubungan, bahkan tidak jarang sampai musuhan sampai saat ini. Tapi tetap, aku tidak menemukan apa yang kucari. Sedikit mendekati pun tidak.
Suatu malam, dalam kebosanan diri, kutelusuri malam. Terhenti di sebuah toko buku, dan aku mencari kosong. Saat aku berada di pojok di bagian sastra, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku menoleh, ternyata seorang saudara jauh. Dia lalu mengenalkan temannya. Aku menjabat tangan teman saudaraku sambil memandang matanya. Kurang jelas aku mendengar namanya, tapi karena aku malu menanyakannya lagi, aku diam.
Malam itu, pencarianku terhenti. Cukup. Teman saudaraku tadi, besoknya aku tahu namanya, Kei, kupikir adalah orang yang kucari selama ini. Sulit tidur adalah yang kemudian menjadi masalahku malam-malam setelah aku bertemu Kei. Setiap detil gurat wajahnya tergambar sempurna dalam benakku. Putih, tinggi, berkacamata. Itu cukup. Sudah lebih dari 50 persen kriteria fisik terpenuhi.
Hampir setiap hari aku bertemu dengan Kei. Aku semakin mengenalnya. Kriteria attitude 80 persen terpenuhi. Sempurna. Tapi setelah aku semakin mengenal Kei, kenyataan pahit harus aku terima. Bahwa ternyata dia sudah punya pasangan. Hatiku remuk tak berbentuk.
Aku kehilangan dia, pikirku sakit.
Aku melanjutkan pencarianku yang kupikir telah terhenti. Sementara, semakin hari, aku semakin dekat dengan Kei, dengan batasan sekedar sahabat. Tiga tahun lebih aku bersahabat dengan Kei. Tepat di tahun ketiga hubunganku dengan orang lain, aku memutuskan untuk mengakihiri. Sudah tidak ada yang patut untuk dipertahankan dan diperjuangkan lebih. Tapi tetap, dalam hubunganku dengan orang lain itu, aku berharap untuk tetap bisa menjadi pasangan Kei. Apakah itu bisa dikategorikan selingkuh? Selingkuh dari pasanganku saat itu, mungkin iya. Tapi kalo dari Kei? Aku rasa tidak. Aku bahkan sudah berharap jadi pasangan Kei sebelum aku menjalin hubungan dengan orang lain.
Aku masih saja terus berpikir bahwa aku telah kehilangan kesempatan untuk bisa jadi pasangan Kei. Sebuah kejadiaan tak terduga melambungkan lagi angan dan harapan yang selama ini aku simpan. Tepat 3 tahun 5 bulan usia persahabatanku dengan Kei, semuanya nyata. Aku adalah pasangan Kei.
Bahagia itu menjadi lebih nyata ketika Kei mengungkapkan bahwa dia ingin akulah yang menjadi teman hidupnya sampai akhir usia nanti. Dan sepertinya, Tuhan tidak membiarkanku berhenti berbahagia, ketika kedua belah keluarga merestui hubunganku dan Kei.
Hari pernikahan kami telah ditetapkan, segala perlengkapan dan semua tetek bengek pernikahan dipersiapkan. Semua tampak begitu mudah. Begitu indah.
Hingga hari itu tiba, hari ketika menurut keluargaku Kei tak mampu menjagaku dan keluargaku. Secara sepihak keluargaku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Kei. Semua persiapan yang sudah terbayar uang mukanya, dibatalkan semua.
Aku tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Menurutku Kei tetaplah seorang penjagaku yang paling baik. Kei tetaplah seorang pembimbing yang paling baik. Kei tetaplah laki-laki nyata dari semua anganku. Aku tetaplah aku, yang mencintai Kei selama bertahun-tahun lamanya, bahkan sampai nanti entah kapan. Yang tetap menginginkan Kei sebagai partner dalam menjalani sisa hidup sampai salah satu dari kami harus Pulang ke Rumah.
Aku dilarang menemui Kei. Wow! Itu sakit.
Aku kehilangan dia, sekali lagi.
Aku mencoba mencari kegiatan sebanyak mungkin. Melanjutkan mengerjakan skripsi. Ikut workshop dan lomba buat ide cerita. Well, kebetulan masuk dalam tim produksi dan tadaa.. Aku adalah seorang scriptwriter.
Aku mulai sibuk meeting untuk produksi film yang deadline hanya kurang lebih tiga minggu. Hari itu, meeting diadakan di sekretariat UKM sinematografi sebuah universitas. Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat Kei. Saat aku berjalan menuju warung makan, aku melihat sekilas ke warung tempat Kei biasa nongkrong bersama teman-temannya sampai pagi.
Tidak ada Kei disana, you fool!, kataku. Aku lalu membeli makan.
Aku sedang berjalan kembali ke sekretariat, ketika telpon selulerku bergetar.
Kei. Setelah sekian lama.
Belum sampai aku bilang ‘halo’, Kei sudah nyerocos menyebutkan baju yang sedang kukenakan saat itu. Spontan, aku melihat ke sekeliling. Mataku terhenti di warung yang tadi sempat kulihat untuk mencari Kei.
Ada. Sejak kapan dia disitu? Tadi belum ada.
Aku langsung menghampiri Kei. Berbincang cukup lama, sampai akhirnya Kei memutuskan untuk menelponku malam nanti. Aku bahagia. Aku bahagia sekali.
Sejarah berulang. Aku dan Kei kembali dekat. Aku dan Kei kembali merasakan getaran itu. Kei bahkan sempat mengutarakan bahwa dia tak rela melihatku didekati orang lain selain dirinya. Dia tak ingin melihatku jalan dengan orang lain. Dan yang paling mengejutkan, dia bilang dia mencintaiku, lebih dari saat-saat kapan pun dia bersamaku, dan tak ingin kehilangan aku sampai kapan pun. I couldn’t ask for more! This is all what I need. He means the world to me.
Aku dan Kei sudah menetapkan komitmen, sekali lagi. Kami akan mencoba lagi, perlahan-lahan. Menjalani semua apa adanya. Toleransi, komunikasi, kejujuran, pengertian, keterbukaan. Aku adalah Kei. Kei adalah aku.
Jika dulu aku melakukan pencarian kekasih yang sempurna, sesuai anganku, kini pencarian itu telah usai. Tidak ada lagi selain aku dan Kei.
Larangan keluargaku untuk menemui Kei bagaimana pun caranya? Larangan itu tidak pergi ke mana-mana. Masih ada dan berlaku. Tapi sekarang aku tidak sendiri lagi. Aku lebih kuat dan tegar. Dan aku siap menghadapi ‘tantangan’ itu. Karena kini ada Kei di sisiku.
May 22nd, 2008 at 10:58 pm
hm…
hm…
hm…
semoga kamu menemukan apa yang kamu inginkan.