Aku jatuh cinta. Dan segala rasa yang mengikutinya, serasa keluar terungkap begitu aja tanpa bisa kukendalikan.
Aku bersyukur, pada akhirnya aku bisa mendapatkan pasangan yang physically, mentally, intellectually perfect. Ini diluar dugaan. Dia sempurna bagiku, dia segalanya bagiku.
Tapi aku manusia, yang nggak pernah puas dengan apa yang sudah aku dapatkan. Aku ingin rasa ini berjalan sesuai jalurnya, secara normal, dan apa adanya.
Aku mungkin menutup mata terlalu lama sehingga aku tidak pernah melihat sosoknya ada tepat di depan mataku. Aku bersyukur, sekarang mataku telah terbuka. Tapi aku ingin semua kejadian yang terjadi ketika aku menutup mata. Aku mau rasa ini datang lebih awal, sehingga aku nggak perlu kehilangan waktu, rasa, dan momen itu.
Apa yang aku rasa sekarang, adalah rasa yang sebelumnya belum pernah aku rasa-setidaknya berusaha aku abaikan. Aku adalah orang yang sama sekali tidak pernah merasakan cemburu.
Tapi entah kenapa, kemarin, ketika aku merasa sudah siap mendengarkan semua cerita masa lalunya, aku merasa-aku belum bisa mendeskripsikan apakah ini cuma sekedar iri atau-cemburu.
Aku ingin semua! Semua yang dia lakukan ke orang-orang yang ada di masa lalunya. Semua terasa indah pada saat aku mendengarkan-dengan hati yang rasanya nggak karu-karuan. Kenapa? Kenapa baru sekarang aku merasa? Kenapa aku nggak dikasih kesempatan dulu untuk belajar gimana rasanya nahan sakitnya ati karena cemburu? Kenapa aku baru merasa cemburu ketika bersamanya? Kenapa aku nggak pernah cemburu ketika aku bersama yang dulu?
Dia tau nggak sih waktu dia cerita itu semua jantungku berdetak lebih kencang? Dan itu sama sekali bukan rasa gugup atau senang mengerti di hanya untukku. Aku cemburu! Memang sih, dia menanyakan apa aku baik-baik aja. Tapi apa yang bisa kukatakan selain “nggak papa kok” walaupun rasanya ati ini… Panas nggak karuan! Apa ini yang namanya cemburu karena cinta? Kalo emang iya, terima kasih banyak buat dia yang masih beri aku kesempatan untuk merasakan ini. Karena ternyata rasa untuk memiliki dia seutuhnya hanya untukku jadi semakin besar tiap satuan waktu yang kulalui bersamanya. Aku nggak tau apa ini wajar atau berlebihan, yang pasti aku merasa makin cinta dia.
Aku ingin ada proses. Bukan aku menyesal semua berjalan serbacepat. Tapi aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan.
Rasa kecewa karena mataku telah tertutup sedemikian lama sampai akhirnya aku mampu membuka mataku kembali untuk melihat dunia dan mendapati dia yang berdiri di sebelahku, bersiap untuk menuntunku menjalani hidup.
Rasa senang ketika dia berusaha mendekati dan mencari perhatianku-aku tidak merasakan itu.
Rasa bahagia ketika dia memintaku untuk jadikanku kekasihnya-aku juga tidak sempat merasakan itu.
Rasa malu luar biasa ketika dia memohonku untuk menjadi teman hidupnya sampai akhir usiaku dan dia-sama sekali nggak kepikiran!
Tapi rasa kecewaku tidak pernah berlama-lama hinggap. Masih banyak rasa yang aku dapatkan, jauh lebih banyak.
Rasa bahagia ketika mengetahui bahwa aku diciptakan dari tulang rusuknya.
Rasa senang luar biasa ketika menghadapi kenyataan dia akan menikahiku.
Rasa gugup ketika dia ada di dekatku, sangat dekat..
Jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kencang ketika dia menciumku.
Rasa lega bahwa dialah yang akan menjadi imamku sampai akhir usiaku.
Pada akhirnya, aku kembali lagi pada awalku. Sebenarnya, cemburu itu apa pentingnya sih? Nggak ada! Orang pada nyatanya dia cuma buat aku, ini!






