Beberapa hari yang lalu, saya menelepon sahabat saya. Karena biasanya rutin telepon, minimal sms, jadi seminggu itu rasanya udah lama banget. Seperti biasa, kami ngobrol segala macam, lalu tiba-tiba dia tanya dulunya saya sekolah di SMP mana. Glodak! Jadi selama ini, dia nggak tau saya dulu sekolah di SMP mana? ((Selama ini dia cuma tau dimana TK, SMU, dan kuliah saya dimana.)) Padahal saya dan dia sahabatan sudah 4 tahun lewat. Padahal saya tau dimana sekolah dia, mulai dari jenjang TK, sampai sekarang kuliah. Menyesal? Nggak. Tidak ada yang perlu disesali dari seorang sahabat. Saya mungkin hanya perlu menanyainya lagi apa bener dia masih serius pengen jadi sahabat saya. Haha.. Just kidding, pal!
Hari ini, saya bantu adik saya yang mau masuk SMP. Biasalah, persiapan untuk MOS. Karena hari ini dirumah saya nggak ada kendaraan sama sekali, saya perginya naik angkot. Lumayan cape. ((Bukan naik angkotnya, tapi lebih karena keliling SPI-PTC, yang dicari nggak ada! Padahal dengan pedenya saya merekomendasikan cari barang itu disana.)) Waktu perjalanan pulang, di angkot saya disms sahabat saya yang lain. Katanya dia lagi bete, dan butuh teman jalan. Saya sih ayuk aja. Karena saya tau pasti apa yang bikin dia bete, dan beberapa hari ini dia memang bener-bener menghilang dari cyber. Blognya nggak keurus. ((Nggak ada posting baru, dan pesan-pesan di shoutbox-nya banyak yang nggak di-reply.)) Dia ngajak saya untuk hunting objek buat difoto. ((Dia lagi getol belajar fotografi.)) Yang jadi objeknya adalah bangunan-bangunan lama di Surabaya, diambil dari sudut yang sama. ((Sayangnya kami nggak bisa menemukan sudut yang sama persis dengan foto aslinya, karena kami nggak lihat foto aslinya secara detil.)) Destinasi pertama kami ke Tunjungan, lalu berlanjut ke Taman Surya ((tapi karena di Taman Surya masih ada terop sisa kehebohan tadi malam akibat The Titans manggung disitu, akhirnya kami menyeberang untuk mengambil foto patung Jendral Soedirman)), Jembatan Merah, Kya Kya, gedung yang sekarang digunakan BII Veteran, gedung yang sekarang digunakan Bank Mandiri Veteran, berakhir di Tugu Pahlawan. Untungnya dia nggak lupa mengembalikan saya ke tempat dimana tadi dia mencomot saya ((a.k.a. pulang.)).
Kecapean saya hari ini belum lengkap. Sesampainya rumah, saya makan lalu harus berangkat lagi untuk mencari keperluan adik saya untuk kepentigan MOS, yang belum dapet.
Kekesalan saya hari ini nggak cukup sampai situ. Well, saya memang senang, karena sebelum jam 7 saya sudah di rumah lagi. Itu artinya saya bisa tenang nonton MotoGP Jerman. Tapi ternyata, kesenangan dan kebahagiaan itu nggak bertahan lama, karena jagoan saya harus KO di putaran ke-(entah saya lupa). Dari beberapa lap awal saya sebenarnya sudah curiga plus kuatir, karena beberapa kali ban motornya mengeluarkan percikan api dan nggak stabil. Dan ternyata kekuatiran saya terbukti! Yang pasti, MotoGP hari ini berasa nggak menarik sama sekali buat saya. Pertanyaan saya, beberapa tahun terakhir, yang memenangkan MotoGP di sirkuit ini adalah jagoan saya, kenapa sekarang dia harus tumbang? Disaat klasemen dia saat ini nggak begitu bagus. Hhh, entah deh, karena kesalahannya yang ini klasemen dia turun atau nggak. Diliat besok aja di koran.
~ wHew.. ~







eh eh makasih ya dikancani keluyuran
you’re the best!
btw sampek rumah, liat2 fotonya di komputer, baru nyadar kalo ternyata banyak yg salah jepret. mestinya moto pagi biar dapet bagus cahayanya :p what was i thinking??
kalo soal rossi, aku percaya akan jadi menarik kalo misalnya tahun depan dia naek motor ijo, iya? tapi sayange wes kadung kontrak sama komeng eh kawasaki
halah maksudte wes kadung kontrak sama yamaha
*duh, ngantuk*
wah spt nya perjalanan nya meyenangkan