“Aku udah males hubungan sama kamu lagi,” ucapnya tanpa beban.
“Oh, oke,” aku menjawab datar. Sebetulnya dalam hati aku merasa kecewa, kenapa dia sampai melontarkan kalimat seperti itu.
“Aku nggak pengen ketemu kamu lagi.”
“Oke,” aku makin kecewa dengan pilihannya.
“Aku bosan sama kamu.”
“Oke,” aku sudah nggak kuat lagi. Air mataku satu persatu mulai turun.
“Lah kamu kok oke-oke melulu? Itulah yang bikin aku bosan. Kamu terlalu menerima semua apa yang aku bilang.”
Aku diam. Terisak.
“Kamu mau ayamnya, tapi nggak mau nangkep. Cuma mau kalo udah di tangan. Mana bisa begitu? Mana usahamu?”
Masih diam, nafasku mulai satu-satu.
“Sudahlah, kita akhiri aja semua ini, dan jangan pernah hubungi aku lagi. Bye.”
Telepon ditutup dan isakanku semakin bertambah cepat.
Aku masih nggak habis pikir dengan keputusannya yang tiba-tiba. Padahal aku mencintainya tulus. Padahal aku menjadi penurut supaya dia tahu bahwa aku akan terus mendukungnya. Aku hanya ingin dia melakukan apa yang dia mau. Dan kalau keadaan sudah seperti ini, berarti keadaan ini memang sudah menjadi maunya kan? Dan aku juga harus tetap mendukungnya kan? Meski hatiku terasa teriris, aku harus tetap ada di belakangnya untuk mendukungnya. Aku ingin selalu ada untuknya, walau dia tak menginginkan itu.
Dia adalah cinta matiku. Kalau dia sudah tak ada perasaan lagi padaku, maka mati jugalah perasaanku. Aku sudah tak percaya lagi pada cinta. Hubungan yang aku jalani nantinya, pastilah bukan atas dasar cinta, tetapi karena ada internal, individual importance.
Terus aku menangis dalam keremangan malam ini. Setelah percakapan itu, aku merasa tak berdaya. Aku merasa tak ada gunanya lagi aku hidup.
Sebuah tangan lalu terulur di hadapanku. Mengajakku melupakan kesedihan yang mendalam. Meski sulit, tak pernah terhenti niatnya untuk membuatku tertawa kembali dan menikmati hidup ini. Aku salut atas usahanya. Gadis itu lalu memelukku, dan berkata, “Sudahlah. Tenang, sayang. Kau tahu aku akan selalu ada untukmu. Kenapa kau masih saja mengingatnya, sedangkan kau tidak tahu pasti, apa dia sedang memikirkanmu atau tidak.” Pelukannya makin erat. “Aku akan selalu ada untukmu,” imbuhnya, masih memelukku erat.
Aku terbangun. Semua hanya mimpi.
Aku tak tahu, seharusnya aku bersyukur atau malah sedih dengan mimpiku barusan. Aku hanya tahu pasti, bahwa meskipun jauh, keyakinan kita akan hadirnya seorang sahabat akan mengalahkan apapun di dunia ini. Seorang kekasih hati sekali pun.
(The story was made in dedication to my very very best friend ever, Citra Desy Rosaline, Italy. Thank you for the love, happiness, sadness you have shared with me.)